Sebagaimana sudah disinggung di awal, hampir tidak ada santri yang sorogan kepada pengasuh pondok di masa sekarang. Keadaan ini berbeda dengan zaman yang lalu. Pada masa itu, masih ada santri-santri yang sorogan langsung kepada pengasuh pondok. Salah satunya adalah guru penulis di Pondok Pesantren Al-Anwar 2 Sarang.
Saat masih bersekolah di Madrasah Aliyah, beliau menangi sorogan langsung kepada KH Abdullah Ubab Maimoen, pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar 2 Sarang. Hal semacam ini hampir tidak mungkin terjadi di masa sekarang, mengingat betapa banyaknya santri di pondok tersebut saat ini. Keadaan di banyak pondok pesantren lainnya sepertinya tidak jauh berbeda.

Lalu, apakah saat ini sudah tidak mungkin seorang santri sorogan langsung kepada kiainya? Jika yang dimaksud adalah sorogan dengan metode yang konvensional, jawabannya adalah hampir tidak mungkin. Mayoritas pengasuh pondok adalah seorang tokoh yang memiliki banyak kesibukan, sehingga akan sangat sulit meluangkan waktu untuk mengajar puluhan, ratusan, atau mungkin ribuan santrinya dengan sistem sorogan. Sorogan kepada pengasuh pondok barangkali hanya mungkin dilakukan di pondok-pondok yang jumlah santrinya kurang dari seratus. Untuk pondok-pondok selain itu, lazimnya pengasuh hanya bisa mengajar santrinya dengan sistem bandongan.
Namun, jika yang penting seorang santri bisa mengoreksi bacaannya atas suatu kitab, maka ia bisa mengambil langkah alternatif. Ada sebuah metode untuk memverifikasi apakah bacaan santri tersebut sudah sesuai menurut sang guru atau belum tanpa harus melalui sorogan.
Dengan metode ini, seorang santri bisa mendapatkan sebagian manfaat dari sorogan meskipun pengajian yang dia ikuti adalah ngaji bandongan. Metode ini penulis dapat dari penjelasan KH Baha`uddin Nursalim (Gus Baha) saat mengisi acara Haflah Akhirissanah Madrasah Diniyah Takmiliyah Al-Anwar 3 Sarang.
