“Sorogan” Saat Ngaji Bandongan

Langkah-langkah dalam metode ini dapat diringkas menjadi dua langkah besar. Pertama, mempelajari teks kitab yang akan dibaca oleh pengasuh pada saat ngaji bandongan. Sebelum mendatangi majelis ngaji bandongan, seorang santri harus mempersiapkan diri dengan cara belajar memahami isi teks kitab yang nantinya akan dibaca oleh pengasuh. Ia perlu mencari tahu arti dari tiap kata sekaligus kedudukannya dalam kalimat. Arti dan kedudukan tiap kata itu kemudian dicatat di kitabnya, agar masih bisa diingat saat menyimak bacaan sang pengasuh. Setelah mengetahui dua hal tersebut, barulah ia mulai mencoba memahami apa yang dikehendaki oleh teks kitab tersebut.

Kedua, menyimak bacaan sang pengasuh sembari mencocokkan arti dan kedudukan tiap kata yang sudah ditulisnya dengan arti dan kedudukan yang dibacakan oleh pengasuh. Jika keduanya cocok, itu artinya bacaan santri tersebut sudah benar. Namun jika tidak, itu berarti ada yang salah dari bacaan si santri. Ia harus mencatat kesalahan-kesalahan tersebut, sekaligus menuliskan koreksinya di kitab yang sudah ia maknai sebelum mengaji. Koreksi ini dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus pengetahuan tambahan baginya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dengan menempuh dua langkah di atas, seorang santri dapat mengukur sejauh mana kemampuannya dalam membaca teks kitab gundul. Ia bisa mendapatkan sebagian manfaat yang biasanya didapatkan dari sistem sorogan. Meski ia tidak membaca langsung di depan pengasuh dan sang pengasuh juga tidak menyimak bacaannya, namun si murid bisa memanfaatkan bacaan gurunya sebagai ukuran untuk mengoreksi bacaannya sendiri. Memang rasanya tetap berbeda jika dibandingkan dengan sorogan yang ‘asli’. Akan tetapi, manfaat yang didapatkan oleh santri bisa lebih besar jika dibandingkan dengan metode bandongan saja.

Memang benar, mengambil ilmu dari pengasuh tidak harus melalui sorogan. Santri tetap bisa mengambil banyak ilmu dari pengasuh melalui ngaji bandongan. Jika seorang santri ingin sorogan, ia juga tidak harus sorogan langsung kepada pengasuh pondok. Masih banyak guru lain yang bisa menjadi guru sorogan. Namun, tidak jarang ada santri yang ingin memiliki pengalaman sorogan dengan pengasuh pondok. Ada juga santri yang merasa kurang puas jika “hanya” sorogan kepada ustaz-ustaz maupun kiai non-pengasuh. Pengalaman sorogan langsung dengan kiai yang menjadi pengasuh pondok merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seorang santri.

Selain itu, sorogan juga merupakan upaya menjaga salah satu tradisi keilmuan Islam yang sangat penting, yaitu qirā`ah ‘alā al-shaykh (membaca di hadapan guru). Berdasarkan keterangan yang penulis dapat dari penjelasan Gus Baha, intensitas tradisi satu ini mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir sehingga perlu adanya upaya untuk melestarikannya. Bentuk upayanya tentu saja adalah dengan menggiatkan praktik metode sorogan, baik yang konvensional maupun alternatif sebagaimana dijelaskan di atas.

Tinggalkan Balasan