Musa berkata kepada kaumnya: ‘Wahai kaumku! Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya jika kamu benar-benar berserah diri.'”
وَقَالَ مُوسَىٰ يَٰقَوْمِ إِن كُنتُمْ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّسْلِمِينَ (QS Yunus: 84).

Musa bahkan pernah merasa lelah dan marah ketika rakyatnya kembali menyembah patung anak sapi. Tapi ia tidak membunuh mereka secara sewenang-wenang. Ia berdoa, menegur, dan memohon ampun bagi mereka. Ia adalah pemimpin yang tegas terhadap kesalahan, tapi tidak rakus terhadap kekuasaan.
Dalam Taurat pun diceritakan, Musa menolak hidup mewah di istana dan memilih penderitaan bersama rakyatnya: “Musa… lebih memilih menderita sengsara bersama umat Allah daripada menikmati kesenangan sesaat dari dosa.” (Ibrani 11:24–25)
Ia tidak berubah menjadi “Firaun baru”. Bahkan ketika rakyatnya meminta dia dijadikan raja, Musa tidak pernah menobatkan dirinya sebagai raja. Ia tetap menjadi hamba Allah dan pelayan umat.
Sikap Musa ini memberikan pelajaran penting bagi siapa pun yang pernah mengklaim sebagai “wakil rakyat”, “pejuang”, atau “utusan perubahan”. Bahwa perjuangan sejati tidak berhenti ketika kursi telah diraih. Justru setelah itu, kesetiaan terhadap nilai keadilan diuji.
Hari ini, kita menyaksikan begitu banyak “Musa palsu”. Mereka turun ke jalan bersama rakyat, namun ketika sudah duduk di kursi kekuasaan, mereka membangun istana yang sama besar dengan Firaun yang dulu mereka kutuk. Mereka lupa bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan alat pembalasan dendam sosial. Mereka telah berubah menjadi Firaun-Firaun baru.
Musa adalah pengecualian. Ia tetap sederhana, tetap membela, tetap menyampaikan kebenaran meski tidak populer. Kita tidak butuh nabi baru. Tapi kita butuh sudut pandang baru, meneladani cara Musa menjaga diri agar tidak menjadi penindas baru. Menjadi Firaun baru.
Sudah saatnya kisah Musa tidak hanya dibacakan di mimbar-mimbar sebagai pelipur lara atau kisah heroik masa lalu. Ia harus dihidupkan dalam gerakan sosial dan kebijakan publik. Harus ada syariat dalam arti luas—yakni tata hukum, ekonomi, dan kepemimpinan—yang berpihak pada kaum kecil.
Sebagaimana Musa memimpin rakyat tertindas menuju tanah yang dijanjikan, kita pun harus memimpin bangsa ini menuju masyarakat yang berkeadilan, bukan sekadar makmur bagi segelintir. Musa bukan hanya nama. Ia adalah misi. Dan selama masih ada rakyat yang ditindas, misi Musa belum selesai. Dan Firaun-Firaun baru harus dienyahkan.
