Tokoh penyebar Islam yang dikenal punya kepedulian pada orang-orang miskin adalah Sunan Drajat dan Syekh Malik Ibrahim. Sunan Drajat mendidik masyarakat sekitar untuk memperhatikan nasib kaum fakir miskin, mengutamakan kesejahteraan umat, memiliki empati, etos kerja keras, kedermawanan, pengentasan kemiskinan, usaha menciptakan kemakmuran, solidaritas sosial, dan gotong-royong (Agus Sunyoto, 2017).
Ajaran dakwahnya yang terkenal terangkum dalam pepali pitu (tujuh dasar ajaran), yang mencakup tujuh falsafah yang dijadikan pijakan dalam kehidupan masyarakat. Ajaran yang ketujuh itu sejalan dengan etos untuk mengutamakan kesejahteraan umat, yaitu menehono teken marang wong kang wuto, menehono mangan marang wong kang luwe, menehono busono marang wong kang wudo, wenehono pangiyub marang wong kang kaudanan.

(Berikan tongkat kepada orang buta; Berikan makan kepada orang yang lapar; Berikan pakaian kepada orang yang tak memiliki pakaian; Berikan tempat berteduh kepada orang yang kehujanan).
Sementara, Syekh Malik Ibrahim dikenang masyarakatnya yang diabadikan dalam nisannya, salah satunya sebagai tokoh yang “dermawan kepada fakir miskin (wa ghaisul-masâkîn wal-fuqarâ`)”.
Menghubungkan Islam dan ketimpangan sosial di Nusantara, mesti tidak melewatkan sepak terjang tokoh kontroversial Syekh Siti Jenar. Walau dikenal kontroversial dengan ajaran manunggaling kawulo gusti-nya, Agus Sunyoto mencatatnya sebagai tokoh pengusung gagasan komunitas baru dengan mengubah konsep feodalistik kawulo (hamba, budak) menjadi egaliter melalui pembukaan hunian-hunian baru yang disebut Lemah Abang.
Berakar dari pemahaman ketuhananya yang kental, Syekh Siti Jenar menanamkan suatu pemahaman bahwa semua makhluk di dunia pada hakikatnya sama di hadapan Tuhan. Kesetaraan tanpa membedakan stratifikasi sosial ini penting untuk menciptakan masyarakat yang terbebas dari ketimpangan sosial. Syekh Siti Jenar mengingatkan kita pada teladan Nabi Muhammad yang mampu membebaskan kaum lemah Makkah waktu itu dari penindasan para pemuka Quraisy.
Beberapa wali juga dikenal sumbangsihnya terhadap perkembangan alat produksi dan varian ekonomi masyarakat. Sunan Kudus dalam dakwahnya mengajarkan penyempurnaan alat-alat pertukangan, kerajinan emas, dan pande besi. Sunan Kalijaga dikenal sebagai wali serba bisa, yang salah satu profesinya yaitu perancang alat-alat pertanian. Tembang gubahanya, Lir-Ilir, menjadi tembang penyemangat dalam bekerja. Serta ada Sunan Majagung atau Raden Alim Abu Hurerah yang mengajarkan mengolah berbagai macam jenis masakan, lauk-pauk, memperbarui alat-alat pertanian, dan membuat gerabah.
Ekonomi dan Solidaritas Umat
Ekonomi menjadi salah satu faktor kuat dalam mendorong solidaritas umat beragama dalam mengatasi problematikanya. Bermula dari kebijakan penjajah Belanda yang dianggap menghambat ekonomi rakyat kebanyakan, solidaritas umat Islam waktu itu melahirkan gerakan besar dalam sejarah politik bangsa ini, yakni Perang Jawa.
