Menurut Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam, alasan di balik perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro ini terutama dipicu oleh penjarahan Yogyakarta oleh Inggris pada 1812, meningkatnya serbuan Belanda setelahnya, dan pelembagaan pajak pertanian oleh orang-orang Tionghoa.
Dalam sejarah permulaan era kebangkitan secara nasional di Indonesia, di mana kesadaran sebagai satu bangsa mulai terbentuk dan keinginan untuk merdeka mulai digalakkan, diskursus mengenai organisasi Sarekat Dagang Islam tidak bisa dilewatkan. Organisasi yang diklaim pendirinya H. Samanhudi lahir pada 16 Oktober 1905 ini, bertujuan untuk menghimpun para pedagang muslim (utamanya batik) untuk bersemangat politik dan membangkitkan semangat nasional melawan kapitalisme Belanda dan kapitalisme China yang telah mulai merajalela di tanah air pada saat itu. Organisasi ini nantinya menghasilkan tokoh-tokoh yang punya andil besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti Tirto Adi Surjo, Tjokroaminoto, H Agus Salim, dan sebagainya.

Islam dan Ketimpangan Sosial
Islam tidak memaklumi kemiskinan. Sebaliknya, Islam menganjurkan manusia untuk berkecukupan dan bahkan Al-Quran menganjurkan untuk memperoleh kelebihan (Quraish Shihab, 1998). Karena salah satu bahaya dari kefakiran adalah dekat dengan sikap kufur nikmat Allah. Nabi Muhammad sering berdoa, “Allahumma inni a’udzubika minal kufri wal faqri” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran.”
Itulah mengapa, para tokoh Islam tercatat memiliki jejak sejarah dalam semangat ekonomi dan usaha pengentasan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Mereka memprioritaskan ekonomi umat dalam perhatian mereka, peka terhadap problematika ekonomi umat, menciptakan sistem sosial-ekonomi yang adil, memperdayakan sumber daya umat dan menginisiasi gerakan kebangkitan ekonomi umat. Karena dengan majunya dan kesadaran ekonomi yang tinggi, Islam terbukti bisa tersebar di bumi Nusantara. Dan dengan usaha kontekstualisasi pada situasi dewasa ini lewat para tokoh agama pula, Islam akan luhur dengan mampu mendorong kebangkitan ekonomi bangsa ini.
Wallahu a’lam bish showab.
Refrensi
Agus Sunyoto, Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah , Cetakan VII, (Tangerang Selatan: Pustaka IIMaN, September 2017).
Michael Laffan, Sejarah Islam di Nusantara (Terjemahan The Makings of Indonesian Islam), Cetakan I, (Yogyakarta: Bentang Pustaka, September 2015).
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an:Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, Cetakan VIII, (Bandung: Mizan, November 1998).
