aku lapar tuhan
orang-orang di kota mendustakan
di jalan-jalan pasar
mereka dagang kemelaratan
di tengah kota, di ingar-bingar nasib
matanya yang lapar tertancap sebutir sunyi
yang tumbuh merindukan kesia-siaan
dan kepada siapa akan memasrahkan jantung
kepada topeng dengan beribu raut murung?

di kota tuhan tatapan lebih bersemi dari bunga
semua menyiram hati seperti embun
sebagai rasa asing kenikmatan
dan seolah kau bangkit dari kubur
tanah yang terlupakan
yang selama ini digarapi rasa ikhlas
sedang waktu masih menunggu
buah-buah tuhan lepas dari langit
aku lapar tuhan
perempuan-perempuan di dekat rel kereta
menunggu kereta fana memasuki perutnya
mengenyangkan mimpinya yang dirusak dunia
; sebutir cinta yang jatuh di atas sepi
ketika tanganmu tiba-tiba mengiba doa
dan waktu yang hitam
menyerbu laparmu yang membara
tuhan, tuhan
