Subuh Terakhir

Saat salat usai, akhirnya aku mampu memendam pertanyaanku dalam-dalam. Yah, mungkin mereka adalah sanak keluarga Pak Mukhlis atau Pak Basuki atau warga desa yang datang dari luar kota. Benar, buat apa aku memikirkannya? Ada baiknya jika sekarang, seperti biasanya, aku mengaji Al-Qur’an saja. Orang-orang desa sudah terlanjur memuji kegiatanku setiap subuh. Jangan sampai mereka tidak mendengar suara merduku ini. Oh, Mita, Mita. Sayang sekali kau bukan muslim.

Sebelum aku berhasil meraih mikrofon, Pak Basuki sudah lebih dulu menyomot mikrofon tersebut. Eh, apa ia hendak mengaji Al-Qur’an juga?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Dihaturkan kepada seluruh warga desa Sentausa agar berkumpul di masjid sekarang juga. Sekali lagi, dihaturkan . . . ”

Apa-apaan itu. Kukira, Pak Basuki akan membaca Al-Qur’an. Rupanya, Ia menggunakan speaker masjid untuk pengumuman. Tunggu dulu, apa tadi ia bilang? Menyuruh warga desa berkumpul di masjid? Memangnya ada apa?

“Bambang, Le, ngajinya libur dulu, ya,” ujarnya padaku setelah itu. Aku yang belum mengerti perbuatannya itu tentu saja masih bertanya-tanya. Aku hanya mengangguk menuruti perkataan Pak Basuki.

Langit belum juga sempurna terang. Banyak warga sudah berdatangan ke masjid. Semuanya laki-laki. Mereka duduk di dalam masjid membentuk perkumpulan lingkaran, seperti yang pernah ada pada acara-acara berita saat Ibu dan Bapak menonton televisi. Terlihat Bapak juga ada di antara orang-orang yang sedang berkumpul. Rupanya Bapak tidak berangkat bekerja?

Sementara itu, tampak beberapa ibu-ibu juga berdatangan. Namun, mereka tidak masuk ke masjid. Hanya menunggu di luar seperti sedang menonton. Oh, Ibuku juga ada di sana. Memangnya, apa yang membuat orang-orang ini datang kemari? Apakah akan ada slametan? Kalau begitu, aku duduk di dekat Bapak saja.

“Bapak-bapak sekalian,” Pak Basuki membuka percakapan, “seperti yang sudah saya katakan tempo hari, tanah masjid ini bukanlah tanah wakaf. Tapi hak milik saya.”

“Pak Basuki tidak boleh seperti itu, dong. Demi kemaslahatan bersama, apakah warga desa tidak mempunyai hak atas tanah ini?” Pak Mukhlis menimpali.

Aku sama sekali belum mengerti dengan duduk perkara yang tengah dibincangkan. Wakaf? Maslahat? Hak milik? Apa itu? Mana acara slametannya?

“Bapak-bapak sekalian,” Pak Basuki mulai berbicara lagi, “beberapa orang yang ada di hadapan kita ini adalah orang-orang yang saya datangkan sebagai kuasa hukum saya. Semua dokumen yang diperlukan terkait tanah ini sudah mereka koreksi. Dan hasilnya, tanah ini memang milik saya.”

“Pak Basuki!” kali ini bapak yang angkat bicara, dengan nada tinggi pula, “Jangan  hanya karena tak terpilih sebagai kepala desa lantas Bapak mau mengambil tanah ini kembali. Apa Bapak lupa kalau dulu Bapak sudah mewakafkan tanah ini sebagai masjid?” Uh, bapak bentak-bentak! Suaranya itu sama seperti saat memarahiku kalau ketahuan pulang bermain layangan terlalu petang. Aku cukup ketakutan mendengarnya.

One Reply to “Subuh Terakhir”

Tinggalkan Balasan