Subuh Terakhir

Rupanya, ucapan Bapak itu mengantarkan bapak-bapak yang lain riuh. Aku tambah bingung dengan persoalan yang terjadi.

“Ingat, Pak! Mengambil tanah wakaf berarti mengambil milik Tuhan,” ucap seseorang di belakang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Jangan berkhianat, Pak! Sikap seperti itulah yang membuat kami tidak memilih Bapak sebagai kepala desa,” timpal yang lain.

“Tenang, bapak-bapak!” suara pak Basuki terdengar meninggi juga, “Kekerasan tidak akan memutuskan apa-apa. Saya punya kuasa hukum di sini. Jangan macam-macam kalian semua kalau tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan!”

Sungguh, mendengar orang-orang dewasa ini bertengkar kakiku terasa gemetar. Rasanya, aku mau mengompol di sarung. Apalagi mendengar kalimat terakhir Pak Basuki itu.

“Saya harap,” lanjut Pak Basuki, “semua kegiatan masjid tidak dilakukan lagi mulai hari ini. Karena, selepas zuhur nanti masjid akan segera digusur. Bapak-bapak tak perlu membantu. Saya sudah membayar orang luar untuk membereskannya.”

Tunggu, apa ia bilang barusan? Masjid mau digusur? Kenapa memangnya? Aduh, ada apa ini?

Setelah ucapan Pak Basuki itu, orang-orang mulai membubarkan diri dengan suara riuh. Tak terdengar suara lain kecuali “Hu . . . , “ yang kompak disorakkan. Wajah mereka terlihat masam; tak nyaman dipandang. Aku mengikuti Bapak dari belakang untuk segera pulang juga. Ibu masih menunggu di depan masjid. Kami pun pulang bersama.

Di tengah jalan menuju rumah, terdengar Bapak bercakap-cakap dengan Ibu.

“Pokoknya, kalau besok masjid belum benar-benar digusur tak perlu lagi mengantar Bambang ke sana. Kita tak perlu terlibat dengan masalah-masalah masjid lagi,” ucap bapak.

“Bang, dengar kata Bapakmu itu,” ujar Ibu padaku.

Aku hanya menunduk dan mengangguk, meskipun belum bisa memahami apa pun. Sedikit yang kutahu bahwa besok, mungkin, aku tak perlu bangun pagi-pagi lagi. Oh, berarti aku tak bisa azan di masjid lagi? Bagaimana kalau orang-orang tak mendengar suara merduku lagi? Oh, Mita, Mita. Rupanya kau memang tak akan mendengarkan kumandang azanku.

One Reply to “Subuh Terakhir”

Tinggalkan Balasan