Keenam, kecerdasan interpersonal. Kecerdasan ini mengarah pada kemampuan seseorang untuk memahami lingkungan, mengenal emosi diri sendiri dan orang lain. Dalam hal ini, orang tua dan guru di pesantren memiliki peran mutlak dalam mengembangkan kecerdasan ini. Orang tua dan guru yang baik harus bisa mencontohkan kebaikan kepada muridnya Karena, bagaimana orang tua dan guru bersikap akan ditiru oleh muridnya.
Ketujuh, kecerdasan intrapersonal. Kecerdasan ini lawan dari kecerdasan Interpersonal. Yaitu kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, dan temperamen orang lain. Kecerdasan ini dapat diketahui dengan bagaimana seseorang bersikap dan membangun hubungan baik antar manusia. Hal ini juga menjadi tanggung jawab guru dan orang tua.

Kedelapan, kecerdasan lingkungan. Kecerdasan ini lebih mendalami tentang emosional seseorang dalam menanggapi lingkungan. Anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya suka mengamati, peduli pada objek alam, seperti hewan, tanaman, dan lain-;ain. Kecerdasan ini termasuk kecerdasan emosional, jadi hanya perlu pengawasan dari orang tua dan guru di pondok.
Kesemban, kecerdasan eksistensial. Kecerdasan ini berkait dengan kecakapan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan tentang kemanusiaan dan tujuan hidup. Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa mematuhi kewajiban yang ditetapkan oleh Tuhan. Kecerdasan inilah yang menurut penulis hanya diajarkan di seluruh pesantren. Sedangkan masih banyak kecerdasan lain yang perlu diasah dan dilatih agar bisa mewujudkan santri yang cerdas sesungguhnya.
Keseluruhan kecerdasan tersebut memang tidak mudah didapatkan. Perlu adanya latihan untuk mengembangkan kecerdasan. Banyak juga faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuhnya kecerdasan setiap santri. Faktor lingkungan, orang tua, kesempatan dan fasilitas yang diberikan menjadi sangat penting untuk dipenuhi oleh lembaga pendidikan, khususnya Pesantren. Agar santri saat ini tidak hanya menguasai pelajaran agama saja. Tetapi, bisa memiliki tiga sampai lima kecerdasan, lebih baik lagi semua kecerdasan dapat dikuasai.
Maka dari itu, penulis sangat berharap lembaga pendidikan seperti pesantren tidak hanya membahas hal-hal yang bersifat teoritis. Perlu adanya pengembangan dan transformasi model pendidikan yang bisa mengantarkan muridnya memiliki kecerdasan yang beragam jenis, seperti di atas. Penulis berharap, semoga hal itu dapat terwujud agar tumbuh generasi yang cerdas dan dapat menjadikan Islam dan negara ini lebih sejahtera lagi. Aamiin.
