Sudahkah Pesantren Mencerdaskan Santrinya?

Gardner juga berpendapat bahwa kecerdasan tidak dapat dilihat dari skor ujian saja dan tidak juga dapat dihitung dengan angka. Konsep kecerdasan Gardner ini mengubah banyak penilaian yang keliru tentang siapa sebenarnya orang yang cerdas. Apakah kesembilan konsep itu? Dan bagaimana seharusnya pesantren memberikan ruang kepada santrinya untuk melatih kecerdasan tersebut?

Pertama, kecerdasan linguistik. Kecerdasan ini merupakan kemampuan menggunakan kata secara efektif baik bahasa lisan maupun tulisan. Dalam hal ini seharusnya pondok pesantren memberikan kesempatan luas kepada santrinya untuk melatih kecerdasan ini. Tentu, banyak cara yang bisa dilakukan, seperti memberi forum rutinan untuk mereka berpidato, orasi, mempelajari bahasa asing, memerankan drama, dan menyampaikan puisi atau cerita.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kedua, kecerdasan matematis. Kecerdasan ini berkaitan dengan bilangan dan logika. Rasional dan kritis dalam berpikir merupakan aspek yang biasanya dimiliki oleh orang yang memiliki kecerdasan ini. Tidak semua pondok pesantren mengajarkan ini kepada santrinya. Bahkan, masih ada yang menganggap matematika tidak penting dengan dalih tidak digunakan dalam memahami Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik. Padahal, matematika adalah hal dasar dalam berlogika. Dan logika yang benarlah yang dapat menuntun kita pada pemahaman yang benar untuk mempelajari Al-Qur’an dan kitab-kitab klasik.

Ketiga, kecerdasan ruang. Orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya memiliki keahlian dalam bidang kesenian, seperti melukis, menggambar dan memiliki kreativitas tinggi untuk menghasilkan sebuah karya. Karena yang memiliki kecerdasan ini dapat menangkap dunia visual dengan baik. Jika pondok pesantren dapat melatih dan memfasilitasi santrinya dalam hal ini, kemungkinan besar santri bisa menghasilkan karya-karya baru dan  menemukan penemuan-penemuan dalam bidang sains dan teknologi.

Keempat, kecerdasan kinestetik. Ini merupakan kemampuan menggerakkan badan untuk mengekspresikan perasaan dan gagasan. Maka kelompok kesenian atau teater dalam pondok pesantren sangat diperlukan untuk melatih kecerdasan kinestetik para santri. Karena kecerdasan kinestetik bisa dilihat dari keahlian seseorang dalam mengontrol tubuhnya, seperti menari, pantomim, berakting dan bisa mengamalkan sunah Nabi Muhammad, yaitu berenang dan berkuda.

Kelima, kecerdasan musikal. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati bentuk-bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik. Untuk mendapatkan kecerdasan ini memang tidak mudah,  harus banyak berlatih dan tekun untuk bisa memiliki kecerdasan ini. Yang menjadi kendala, adanya pondok pesantren yang belum bisa menerima musik. Padahal santri selalu diajarkan untuk bisa berdakwah. Dan berdakwah tidak hanya melalui kajian saja. Berdakwah juga bisa dipadukan dengan musik yang bernuansa islami.

Tinggalkan Balasan