Bahasa itu juga soal rasa. Dan rasa dibangun oleh suasana. Suasana bisa berupa konteks, bisa berupa relasi hal ihwal.
Bagi seorang Edy Mulyadi dan lain-lainnya, ungkapan “tempat jin buang anak” mungkin hal biasa. Sebagai bahan guyonan sambil cengengesan. Tapi bagi orang-orang lain, dalam konteks dan relasi hal ihwal yang berbeda, ungkapan itu bisa berarti penistaan, bisa berarti penghinaan, bisa berarti olok-olok.

Ketika saya memanggil seorang kawan dekat dari Jawa Timur dengan teriakan “Hei, asu…,” itu bisa menjadi ungkapan tanda keakraban. Tapi ketika panggilan yang sama saya tujukan kepada orang asing, itu tandanya saya sedang menabuh genderang perang.
Jangan berlindung di balik peribahasa “lubuk hati siapa tahu”. Dengan konteks dan relasi hal ihwal, isi hati orang masih bisa dibaca, diraba, diterka: bahasamu akan menunjukkan siapa dirimu.
