Suiii, Lebaran, dan Sepotong Laut

Sebelum matahari terbenam, setelah selesai mengantarkan satu plastik berisi daging sapi kurban ke rumah Mas Toha, setelah selesai mengaji di makam kakek dan nenek, aku memutuskan untuk mampir ke pantai yang tak jauh dari kuburan kakek-nenekku.

Sebenarnya, aku tidak suka pantai, bahkan benci. Aku punya pengalaman pahit tentang pantai dua tahun lalu. Di pantai, aku pernah ditinggal sendirian hingga azan maghrib saat bermain bola dengan dengan kawan-kawanku. Aku menangis, aku ketakutan hingga akhirnya Eppak tiba-tiba ada di depanku. Dia memarahiku. Telingaku dijewer, katanya aku nakal. Sejak saat itulah, aku mulai membenci pantai dan apa-apa yang berhubungan dengan pantai, termasuk laut. Bahkan, semenjak kejadian itu, aku juga tidak mau memakan makanan yang berasal dari laut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi, saat ini tiba-tiba saja aku ingin ke pantai; ingin melihat laut lepas. Aneh memang, serasa ada sesuatu yang berbisik di telingaku; menyuruhku untuk melihat laut. Eh, Aku tidak boleh bohong! Aku takut dan murka bila dipanggil pembohong; aku ingin melihat laut karena aku rindu pada seseorang yang sangat suka laut. Sungguh! Dia sangat menyukai laut. Dia bilang, laut itu utuh, lepas, dan penuh rahasia. Entahlah, aku bingung apa maksudnya dan aku tak pernah memikirkannya sebab aku memang membenci laut, dulu.

Sudah hampir seminggu aku tak melihat sosok wanita si penyuka laut itu. Padahal, meskipun gengsi, pada akhirnya aku selalu menitipkan salam padanya bahwa aku sedang rindu. Tapi, katanya dia malah tertawa. Kenapa? Biasanya, dia setiap hari bermain ke rumahku untuk sekadar bercerita dan mengajariku pelajaran sekolah MA-ku. Ya, aku masih kelas 2 MA.

“Jangan nakal, ya, Cil!” dia selalu bilang seperti itu sebelum pulang.

“Siap, Lek! Jawabku pasti seperti itu.

Ya, meskipun sedikit lebih muda darinya, aku memangilnya Alek, dan dia tak ingin memanggiku kakak. Dia memanggilku bocil.

Di perjalanan, sebelum sampai ke pantai, aku melihat banyak orang berlalu-lalang. Aku tahu, mereka akan mengunjungi tetangga, kerabat, atau teman-teman dekat mereka untuk memberikan daging hewan kurban mentah atau juga nasi.

Memang, sebelum malam lebaran, saat sesudah atau waktu magrib menjelang, orang-orang di kampungku akan melaksanakan kebiasaan seperti itu. Orang-orang di kampungku banyak yang menyembelih hewan kurban yang kemudian satu per tiganya untuk dirinya sendiri dan keluarganya atau bisa disebut dengan  sohibul qurban. Satu per pertiganya lagi dibagikan kepada orang-orang fakir miskin, sementara sisanya akan dibagikan kepada  tetangga, teman, ataupun kerabat.

Orang-orang di kampungku biasanya juga akan bersedekah nasi. Nasi itu dilengkapi jhuko’ ajam kella pate, ada juga jhuko’ sape massak mera, acar, mie rebus, telur rebus, dan lain-lain. Setelah atau sebelum itu, mereka pasti berziarah ke makam para leluhur dengan membawa serta anak dan istri bahkan sekeluarga besar.

Setelah sampai di pantai, aku langsung mencari tempat yang nyaman untuk duduk, agar aku puas memandangi laut lepas. Aku merasakan ketenangan, aku terus memandangi laut lepas itu. Aku tak habis pikir. Ternyata di laut masih ada orang-orang yang mempunyai kesibukan. Aku melihat satu dua kapal yang melintas. Aku tak tahu hendak ke mana mereka, apa mereka tidak ingin merayakan hari raya Idul Adha besok? Entahlah, yang pasti aku harus bersyukur karena keluargaku diberi kecukupan oleh Tuhan sehingga tidak sibuk-sibuk seperti orang-orang di dalam kapal itu sampai-sampai lupa lebaran.

Tinggalkan Balasan