Sebelum tidur, aku kembali meletakkan sepotong laut itu di bawah bantal lantas kupandangi baju, sarung, songkok, dan sandal yang kemarin dibelikan Emmak di pasar Bangkal untuk dipakai besok. Apa dia akan suka terhadap penampilanku besok? Huft! Aku tidak percaya diri! Apalagi saat mengingat laki-laki yang dekat dengannya, aku berasa tidak ada apa-apanya. “Suiii, aku merindukanmu, sungguh!” batinku, dalam. Sedalam laut.
Pagi-pagi sekali aku berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat Idul Adha karena memang salat Idul Adha dilaksanakan lebih pagi ketimbang salat Idul Fitri. Aku tidak lupa membawa sepotong laut itu dan kuletakkan di dalam gulungn sarungku. Sepotong laut itu tetap bercahaya. Sungguh, apa kalian tidak percaya? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan dia dan memberikan sepotong laut itu padanya, pasti dia akan sangat senang.

Aku sengaja tidak makan sebelum sebelum selesai khutbah, itu sunnah Nabi. Tak ada wajah sedih pada seluruh orang-orang di masjid karena saat ini hari kemenangan. Aku juga senang, aku juga menang. Tapi, tidak dengan hatiku, hatiku tidak tenang juga tak menang.
Setelah selesai salat, aku, kawan-kawan, dan juga yang lainnya bersalaman; saling memaafkan. Orang tua dan gurulah yang pertama kusalamani. Dan setelah itu kami langsung makan bersama yang telah disiapkan oleh kaum perempuan. Sebelum berangkat keliling kampung untuk bermaaf-maafan, aku juga ikut serta menyulut petasan besama kawan-kawan. Uh, sungguh menyenangkan.
Di perjalan menuju rumah Man Toha, aku melihat dia, Suiii, berjalan bersama ibunya. Bibirku mendadak seperti kain kafan yang bergetar; aku tidak tenang. Tapi, aku tetap menghampirinya, aku mencium tangan ibunya. Ibunya senang aku datang. “Aku duluan ya, Nak! Nanti kamu nyusul ke rumah Man Toha bareng Nak Addul ini, kalian kan kalian sudah lama tidak bertemu kayaknya,” ucap ibunya lantas pergi. Suiii mengangguk. Aku senang.
Aku memandangnya. Meskipun dia tersenyum, aku melihat wajahnya seperti yang tadi malam; berubah, Eh, tapi terkadang juga seperti yang semula, kadang berubah, kadang seperti semula. Aghr…! Kenapa wajahnya berubah-ubah seperi itu?! Tapi, tetap kuberanikan diri.
“Aku sungguh merindukanmu! Ini sepotong laut untukmu!” ucapku seletah mengambil sepotong laut dari gulungan sarungku.
“Aku tidak suka laut!”
Gelap.
Musala Instika, 05/07/22.
