Begitupula saat ada acara kematian dari warga penghayat Kepercayaan Sapta Darma, warga umat muslim pun datang untuk memberikan penghormatan kepada warga yang meninggal dan mengantarkannya hingga ke pemakaman. Terkadang pada malam harinya, warga setempat terutama yang beragama Islam, dipandu oleh tokoh agama dari umat muslim, diundang untuk memimpin doa bagi warga penghayat yang meninggal.
Bentuk solidaritas antar-umat beragama yang terbangun membuat para warganya merasa nyaman dan tentram. Hal seperti ini menjadi pemandangan yang indah yang bisa dan biasa ditemui di Sukoreno.

Salah satu tokoh Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dari agama Islam, Syamsul Bahri, menyebutkan, sikap toleransi dibutuhkan untuk bisa saling menghormati antarsesama dan menghargai perbedaan yang ada. Hal ini terbukti dengan adanya langgar dan sanggar yang berdampingan, tidak mengikis tali persaudaraan di antara mereka.
Masyarakat di desa ini selalu mengedepankan sikap terbuka dengan segala perbedaan.nya Menjaga untuk tidak saling mengganggu saat penghayat atau warga muslim menjalankan ibadah. “Jalan terbaik dalam hal toleransi antarumat beragama dalam urusan peribadatan kepada Tuhan sudah jelas ada dalam surat Al-Kafirun ayat 6, yaitu lakumdinukum wa liyadiin, untukmu agamamu dan untukku agamaku,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh umat manusia tidak akan menolak adanya keragaman, karena hal ini merupakan sunnatullah. Karena itu, toleransi merupakan aspek fundamental dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera baik mental maupun spiritual.
