Setelah Indonesia merdeka, H Marthokan, salah satu keturunan Sunan Drajat, merasa risau. Sebab, masyarakat Banjaranyar kembali terjerumus dalam kesesatan, dan kehidupan mereka jauh dari ajaran-ajaran Islam. Banyak yang menjadi pemuja pohon dan kuburan kuno. Bahkan, lahan bekas pesantren yang dibangun Sunan Drajat dijadikan tempat kemaksiatan.
Karena itu, H Marthokan akhirnya menggembleng anak-anaknya, terutama Abdul Ghofur, dengan pendidikan agama. Tujuannya, agar bisa menghidupkan kembali warisan Sunan Drajat, syiar Islam melalui lembaga pendidikan.

KH Abdul Ghofur, yang lahir pada 12 Pebruari 1949, dikirimkan ke berbagai pesantren untuk mendalami agama. Saat SMA, misalnya, Kiai Abdul Ghofur, bersekolaj Madrasah Aliyah Denayar Jombang. Setelah itu, antara 1965-1968, ia mondok di Pondok Keramat dan Sidogiri Kediri untuk mendalami nahu-saraf. Kemudian, mendalami fikih di Pondok Sarang, Jawa Tengah, yang diasuh oleh KH Zuber. Periode 1970-1975, Kiai Abdul Ghofur nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Tretek yang diasuh KH Ma’ruf Zuwaeni, dan Pesantren Roudlotul Qur’an yang diasuh KH Asy’ari. Rupanya, selama nyantri, Kiai Abdul Ghofur juga mempelajari ilmu pengobatan dan bela diri.
Setelah kembali ke kampong halaman, sembari mengajar mengajar di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji, Kiai Abdul Ghofur mulai mencari jalan untuk menghidupkan kembali Pesantren Sunan Drajat. Tak mudah perjuangannya. Banyak yang sinis dan bahkan mencemooh. Kiai Abdul Ghofur kemudian menerapkan berbagai strategi. Misalnya, ia merangkul kaum muda dengan cara mendirikan klub sepak bola, group musik, serta perguruan ilmu bela diri yang diberi nama GASPI (Gabungan Silat Pemuda Islam).
Pendekatan seperti ini efektif. Setiap selesai latihan bela diri, sepak bola, atau musik, misalnya, para pemuda itu diajak untuk mengambil pasir dari laut. Itulah modal awal untuk membangun kembali Pondok Pesantren Sunan Drajat. Dan, akhirnya pada 1977 Pondok Pesantren Sunan Drajat kembali berdiri. Kini, jumlah santrinya mencapai sekitar 14 ribu. Lembaga pendidikannya pun lengkap, mulai dari untuk anak usia dini hingga perguruan tinggi.

Pusat Bisnis
