Surat Buat Mas Bechi

Melalui pemberitaan media massa kita tahu, kasus ini sudah cukup lama diproses aparat penegak hukum. Mas Bechi sudah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, berkali-kali polisi gagal membawa Mas Bechi untuk menjalani proses hukum karena ada penolakan dan perlawanan dari pihaknya, dan akhirnya dimasukkan ke dalam DPO (Daftar Pencarian Orang).

Terakhir, pada Minggu (3/7) lalu, sedianya polisi hendak menangkap Mas Bechi sebagai DPO ketika sedang menyertai ayahnya, KH Muhammad Mukhtar Mukhti, memberikan pengajian di suatu tempat. Saat itu, saat hendak ditangkap, Mas Bechi kabur bersama para pengikutnya. Terjadi aksi kejar-kejaran bak dalam film laga —sampai polisi tak mengendus jejaknya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di saat bersamaan, sang ayah, KH Muhammad Mukhtar Mukhti justru meminta polisi untuk menghentikan kasus anaknya. Seperti dalam video yang viral di lini massa, begini permintaan Kiai Mukhtar kepada polisi: “Untuk keselamatan kita bersama, untuk kejayaan Indonesia Raya, fitnah ini masalah keluarga. Untuk itu, kembalilah ke tempat masing-masing, jangan memaksakan diri mengambil anak saya yang kena fitnah ini.”

Itulah yang kemudian menjadi sorotan dan perbincangan publik. Itulah pula yang mendorong munculnya pertanyaan tak kalah penting: bagaimana kita harus bersikap menghadapi kenyataan seperti ini.

Untuk itulah tulisan ini dibuat sebagai surat buat Mas Bechi. Tentu, soal kebenaran hakiki atas kasus yang menimpa Mas Bechi ini, hanya Tuhan yang tahu —plus Mas Bechi sendiri beserta santri-santri putri yang melaporkannya. Apakah ini hanya fitnah belaka, atau memang peristiwanya benar-benar terjadi secara faktual, biarlah pengadilan yang memutuskan. Mas Bechi bisa membuktikan kebenaran dan ketakbersalahan di pengadilan. Di pengadilan, Mas Bechi juga bisa membuktikan diri sebagai korban fitnah belaka. Itulah gunanya kita hidup bernegara, di negara yang menerapkan hukum positif.

Tinggalkan Balasan