Surat Buat Mas Bechi

Mas Bechi, kasus ini sesungguhnya bukan tentang Mas Bechi seorang. Bukan melulu tentang apakah Mas Bechi bersalah atau korban fitnah. Lebih dari itu, ini tentang asas setiap orang memiliki kedudukan yang sama di mata hukum. Juga tentang setiap orang memiliki kewajiban yang sama dalam menjaga tertib hukum dan tertib sosial. Tak boleh ada yang lebih diistimewakan di mata hukum.

Orang-orang mungkin masih menduga-duga atau berdebat atau malah bergunjing tentang kebenaran kasusnya. Tapi saya tidak. Saya justru melihat, apa yang Mas Bechi lakukan dengan menolak mengikuti proses hukum itu dengan sendirinya mengajari masyarakat untuk membangkang. Membangkang terhadap hukum yang diberlakukan oleh negara. Itu artinya kita sudah mulai mengabaikan tertib hukum dan tertib sosial.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Nanti-nanti, jika ada kasus serupa, misalnya, Mas Bechi-lah yang akan dijadikan contoh oleh masyarakat atau oleh santri-santri. Kalau Mas Bechi boleh membangkang, boleh tidak menghormati dan mengikuti proses hukum yang berlaku, kenapa saya tidak?

Itulah yang saya khawatirkan. Tanpa kita sadari, apa yang Mas Bechi lakukan sama artinya dengan menanamkan benih-benih pembangkangan di tengah masyarakat. Sama artinya dengan menyemaikan nilai-nilai pengabaian pada tertib hukum dan tertib sosial. Dan jika apa yang Mas Bechi lakukan itu diikuti oleh semakin banyak orang, maka akan chaos, tidak ada lagi tertib hukum dan tertib sosial. Ujungnya, tatanan sosial dan sendi-sendi kemasyarakatan akan jungkir balik. Rusak.

Sejarah memberi tahu kita bahwa, kadang-kadang, menjaga tatanan sosial dan sendi-sendi kemasyarakatan agar tetap ajek dan jejek itu lebih penting dari kebenaran yang kita perjuangkan. Karena itu, Mas Bechi, menghormati dan mengikuti proses hukum itu bisa lebih penting dari putusannya. Toh, nanti masih ada Pengadilan Terakhir .

Tinggalkan Balasan