Surat dari Perjalanan Pulang

Saya menyukai perjalanan dengan angkutan umum. Bus atau kereta api memberi saya waktu yang jujur untuk berdiam. Sepanjang jalan—baik ketika pulang maupun kembali—saya biasa menenggelamkan diri dalam buku-buku cerita, novel, atau cerita silat. Membaca di kendaraan umum bagi saya seperti ritual kecil: membiarkan kata-kata berjalan sejajar dengan roda, membiarkan pikiran menempuh jarak yang kadang lebih jauh daripada tujuan. Saya membayangkan bentangan sawah yang dahulu hijau dan lapang, menghampar tanpa sekat, dengan gundukan-gundukan kecil di sepanjang jalan yang mungkin pernah menjadi bukit sederhana, tempat anak-anak bermain dan burung-burung bertengger tanpa rasa takut.

Namun imajinasi itu perlahan bertabrakan dengan kenyataan yang melintas di luar jendela: hutan-hutan yang digunduli atas nama kepentingan umum, sawah-sawah yang satu per satu berubah menjadi deretan rumah, ruko, dan jalan berlapis aspal. Apa yang dulu terbentang sebagai ruang hidup bersama, kini menyempit menjadi petak-petak kepemilikan. Dalam perjalanan itu, saya merasa bukan hanya jarak yang ditempuh, tetapi juga perubahan yang tak dapat ditolak. Bacaan di tangan saya menjadi semacam pelarian yang sunyi—cara sederhana untuk menyelamatkan ingatan, agar masa silam tidak sepenuhnya hilang ditelan kemajuan yang tergesa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Akhirnya, tanggal 22 Desember 2025, kabar itu datang: bus penuh semua. Kata penuh terdengar sederhana, tapi cukup membuat dada sesak. Saya panik sebentar, lalu keesokan paginya, 23 Desember 2025 pukul 10.00, saya memilih pasrah. Tahun ini tidak pulang, pikir saya. Keputusan itu saya terima seperti menerima hujan yang turun tiba-tiba—tanpa payung, tanpa keluhan. Namun pasrah rupanya tidak selalu berarti berhenti berharap. Setelah zuhur, sekadar iseng, saya menghubungi agen bus Pandawa 87 di Cipinang. Dua kursi sempat tersedia, lalu hilang tepat ketika hendak ditransfer untuk pembelian tiket. Beberapa menit kemudian, telepon berdering: ada penumpang yang batal berangkat. Kursi itu menjadi milik saya. Saya terdiam. Peristiwa kecil ini mengajarkan bahwa pulang sering dituntun oleh ketidakterdugaan.

Dua hari setelah benar-benar tiba di Yogyakarta, saya mengabari sahabat lama: Kiai Khairul Umam. Gus Rully, begitu teman-teman memanggilnya—iya, meski latar belakangnya Muhammadiyah. Di situlah keindahan persahabatan: ia tidak sibuk mengurusi label. Begitu tahu saya berada di Yogyakarta, ia mengajak saya ke rutinan Jagad Suwung pada tanggal 26 Desember di kediaman Cak Arif (Cakil). Ajakan itu datang tanpa basa-basi, seolah kepulangan saya belum lengkap jika tidak singgah di lingkaran orang-orang baik itu.

Tema pertemuan Jagad Suwung malam itu provokatif sekaligus jenaka: “Seberat Apa pun Masalahmu, Itu Bukan Masalahku.” Sebuah kalimat yang sekilas terdengar dingin, namun justru membuka ruang perenungan yang sangat dalam bagi saya. Di sana, kami diajak melihat bahwa kita sering kali adalah bagian dari masalah itu sendiri. Bahkan, masalah adalah bagian dari masalah—ia berlapis, berulang, dan tak pernah benar-benar selesai.

Terkadang, masalah dihadirkan bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Seperti kata Rumi, luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam diri. Cahaya itu tidak datang tanpa robekan, tidak hadir tanpa rasa perih.

Ada pula kalimat yang terus terngiang dalam lingkaran Jagad Suwung itu: “Ketika Tuhan ingin menarikmu kepada-Nya, Dia menempatkan kesedihan di hatimu.” Hidup memukul kita bukan untuk menjatuhkan, melainkan seperti biji yang harus hancur agar bisa tumbuh. Dan ketika seseorang merasa kehilangan segalanya, di situlah Tuhan perlahan menjadi segalanya.

Masalah, pada akhirnya, tidak dihadirkan karena Tuhan membenci, tetapi justru karena Dia terlalu mencintai untuk membiarkan manusia berjalan terlalu jauh dari-Nya. Tuhan selalu berpihak pada setiap kejadian, dan selamanya manusia akan berada dalam lingkaran masalah. Yang membedakan hanyalah dengan siapa kita berjalan dan duduk.

Tinggalkan Balasan