Surat dari Perjalanan Pulang

***

Selama di Yogyakarta, saya juga mengunjungi guru saya, cerpenis Joni Ariadinata, serta penyair Komang Ira di rumah makan miliknya, Dapur Cening. Bersama Beyong, suaminya, Komang Ira mengelola tempat itu dengan menu-menu khas Bali, di antaranya ayam dan sate betutu. Dapur Cening bukan sekadar rumah makan; ia menjadi ruang perjumpaan. Di sana saya bertemu sahabat lama, penyair Mira MM Astra. Ada jenis persahabatan yang tidak memerlukan banyak kata—cukup duduk bersama, secangkir minuman hangat, dan tawa pendek yang tidak perlu dijelaskan. Di tempat yang sama, saya bertemu Indrian Koto—penyair yang terlihat menakutkan tapi kocak dan hangat—pemilik Jual Buku Sastra (JBS).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ruangan JBS bukan hanya dipenuhi buku-buku yang dijual daring, tapi juga memiliki lini penerbitan. JBS yang beralamat di Desa Keloran, jauh dari hiruk-pikuk kota, seperti sengaja disembunyikan agar hanya mereka yang benar-benar ingin singgah yang akan menemukannya. Bangunannya berupa rumah panggung dari kayu, sederhana dan bersahaja. Di kanan-kirinya terbentang sawah. Hijau. Tenang. Angin berjalan perlahan masuk ke sela jendela, membawa kesenyapan yang jarang ditemui di toko buku kota. Sastra di sana tidak terkurung rak; ia bernapas bersama angin desa. Membaca di sana bukan sekadar aktivitas, melainkan laku—sebuah cara menunda dunia agar hati bisa mendengar dirinya sendiri.

Di JBS juga kerap menjadi tempat berlangsungnya peristiwa-peristiwa kecil yang diam-diam penting. Seperti malam tahun baru, ketika diadakan baca puisi bersama Mira MM Astra, Saut Situmorang, dan Mahfud Ikhwan. Saya hadir sebagai tamu, dan membaca dua buah puisi.

Yogyakarta, di momen-momen seperti itulah saya merasa pulang menemukan maknanya yang lain. Pulang tidak selalu berarti sampai di tanahmu, tempat kau melahirkan banyak sastrawan. Kadang pulang adalah duduk tenang di antara kata, sahabat, dan keheningan; berada di lingkaran kecil orang-orang yang tidak sibuk menilai capaian hidup, melainkan berbagi kegelisahan yang sama.

Jika sebelumnya saya bertanya siapa yang mampu mengajak pikiran pulang, jawabannya hadir dalam perjalanan dan ruang-ruang sunyi seperti Jagad Suwung, Dapur Cening, dan rumah kayu JBS. Tempat-tempat itu mengajarkan bahwa pulang adalah proses, bukan tujuan. Dan saya, hingga kini, masih belajar menempuhnya. Pada akhirnya, mungkin memang tidak semua perjumpaan ditakdirkan selesai dalam bentuk jawaban. Ada yang cukup tinggal sebagai getar, sebagai sisa, sebagai sesuatu yang tidak perlu dituntaskan. Seperti perjalanan pulang ini—ia tidak menutup kegamangan, tetapi mengajarkan cara duduk bersamanya. Saya belajar bahwa pulang tidak selalu berarti tiba, melainkan memahami bahwa kehilangan, penantian, dan ketidakterwujudan pun adalah bagian dari jalan.

Karena itu, Yogyakarta, izinkan saya menutup surat ini dengan kutipan puisi dari seorang penyair legendaris kelahiran Pacitan namun tinggal dan meninggal di jantungmu, Iman Budhi Santosa: “Sebuah Pertemuan”:

Akhirnya kita sama-sama tahu / Cuaca dingin yang menebar angin kali ini / Adalah rindu-rindu awan kelabu: / Sebelum gerimis datang, terucaplah doa / Tentang pertemuan hujan yang tak sempat terwujud.

Tinggalkan Balasan