Pemikiran kebangsaan panjenengan bukan sekadar slogan di spanduk dadakan. Ia adalah integrasi paripurna antara Islam dan nasionalisme. Panjenengan menyatukan keduanya, menjahitnya menjadi satu kain yang tak bisa dirobek. “Hubbul wathan minal iman” itu bukan kalimat gombal untuk menarik simpati politikus, Mbah. Ia adalah sebuah pernyataan cinta yang tulus, yang membingkai Islam dan Indonesia dalam satu tarikan napas. Panjenengan mengajarkan bahwa menjadi Muslim yang taat itu, ya harus sekaligus menjadi patriot bangsa yang baik. Tak ada dikotomi. Tak ada pilihan biner.
Panjenengan tahu betul bahwa negara ini dibangun dari tanah yang sama, tapi isinya berbeda-beda. Maka, Resolusi Jihad panjenengan bukan cuma soal angkat senjata, Mbah, tapi juga tentang ajakan untuk bersatu, mengesampingkan perbedaan, dan melawan penjajah. Sebuah pemikiran yang satir jika dibandingkan dengan para “pendakwah” zaman sekarang yang gemar sekali memecah belah umat, padahal musuhnya ada di dalam diri sendiri.

Panjenengan juga paham bahwa jihad itu bukan hanya di medan perang, melainkan juga di medan ilmu. Maka, panjenengan dirikan Pesantren Tebuireng, bukan sekadar untuk mencetak kiai dan ulama, tapi juga mencetak patriot yang tahu betul arti dari perjuangan. Panjenengan dirikan Nahdlatul Ulama, bukan sekadar untuk menjadi organisasi massa, tapi menjadi jangkar pemikiran dan penjaga tiang kebangsaan.
Lalu, apa lagi yang harus saya tulis dari sosok jenengan, Mbah? Saya tak cukup punya nyali melihat sosok yang tidak hanya dikenal sebagai seorang ulama besar, pendiri organisasi besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, tapi juga seorang Pahlawan Nasional.
Tapi, Mbah, kalau boleh saya curhat, tentang ketidakberanian saya dalam menarasikan perjalanan, pemikiran, dan keilmuan jenengan. Andai, andai saya punya nyali seperti nyali politikus. Ah, Mbah, kadang saya jadi iri dengan nyali para politikus yang berani dan terkesan tergesa-gesa dalam mengambil kebijakan. Sampai-sampai bikin kami bingung tujuh keliling. Atau para pendakwah dadakan yang naik panggung pakai seragam lengkap, lalu teriak-teriak “bidah” dan “haram” dengan gampang. Kok ya bisa-bisanya mereka membenci yang tak sejalan, ya, Mbah? Nyali saya tidak sekuat itu.
Bahkan tidak jarang di antara mereka, Mbah, setiap kampanye selalu mengibarkan bendera dengan gambar jenengan, demi mendapat simpati. Tidak jarang pula mengutip dan membawa nama jenengan ke panggung politik. Sementara pada saat bersamaan, Mbah, perilaku mereka jauh dari apa yang jenengan contohkan.
Saya jadi teringat pemikiran panjenengan yang disusun kembali oleh cucu panjenengan, Kiai Muhammad Ishom Hadziq, dalam kitab Risalah Ahlusunnah Wal-jamaah. Panjenengan menulis, “Saat ini kaum Muslimin sangat membutuhkan doktrin-doktrin ajaran yang benar. Banyak orang yang bodoh mulai berani maju berfatwa, padahal wawasan dan pemahaman mereka terhadap kitabullah dan sunah Rasulullah SAW sangat terbatas.”
Rasanya, kalimat itu masih sangat relevan sampai sekarang. Banyak dari kami mengutip ayat dan hadis seenaknya, tanpa melihat konteks. Lalu, siapa yang tak sepakat langsung dianggap kafir. Ngeri, Mbah, ngeri sekali!
Padahal, panjenengan selalu menekankan pentingnya adab dan etika bagi para pencari ilmu. Mendekatkan diri kepada Allah, menjaga lisan dan perbuatan, serta selalu rendah hati. Panjenengan juga berpesan, Mbah, agar ilmu yang telah dipelajari harus diamalkan. Bukan cuma disimpan di kepala, tapi jadi bekal untuk memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Tujuan pendidikan, menurut panjenengan, bukan cuma soal pintar, Mbah. Tapi untuk membentuk manusia yang sempurna, yang dekat dengan Allah, dan meraih kebahagiaan dunia akhirat. Pemikiran inilah yang menjadi fondasi panjenengan dalam berbangsa dan bernegara. Mencintai negara tidak cukup dengan pidato, tapi harus dimulai dari mendidik para santri dengan tujuan mulia itu.
Lalu apa yang harus saya tulis dan sampaikan kepada jenengan, Mbah? Semua sudah ada yang menulis, dan saya, sebagaimana saya sampaikan dalam pembuka surat ini, ketika mencari: apalagi yang belum ditulis oleh peneliti dan penulis-penulis besar baik dari dalam negeri maupun penulis dari luar negeri tentang sosok, peran, pemikiran, dan keilmuan jenengan. Semua sudah ditulis.
