Surat kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari*

Dan saya, ketika masih di pesantren, lebih banyak bolos ketimbang mengaji. Haruskah saya menafsirkan mimpi berdasarkan tafsir kitab karangan ulama Muhammad bin Sirin, dalam kitab Tafsir Al-Ahlam?

Mbah, seperti yang saya ceritakan, mimpi itu sungguh tak masuk akal. Masa iya daun mangga yang hijau, ketika gugur dan melayang, berubah jadi kuning? Apa karena saking indahnya, saking terburu-burunya jatuh, sampai-sampai warnanya pun ikut berubah? Entah. Yang jelas, kehadiran panjenengan di bawah pohon mangga tempat saya duduk membaca Ratibul Haddad itu, sungguh membuat bulu kuduk merinding. Seakan-akan ada isyarat, bahwa kami, jejaring duniasantri, ada dalam naungan dan bimbingan panjenengan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Adapun perubahan warna dari hijau menjadi kuning itu, saya kira, bisa diartikan sebagai perjalanan spiritual yang sedang saya dan teman-teman di jejaring duniasantri jalani menuju kematangan. Bukankah demikian, Mbah?

Mimpi itu, Mbah, saya yakini sebagai restu dan dukungan spiritual untuk gerakan literasi kami, baik jejaring duniasantri maupun Media Group Tebuireng yang sedang kami kerjakan. Sebuah “pengesahan” batin bahwa niat gerakan kami dalam mengembangkan pemikiran panjenengan bukan semata-mata karena ancaman, tapi karena memang sebuah panggilan spiritual yang harus kami jalani. Bukankah begitu, Mbah?

Dan, seperti yang panjenengan tahu, hal-hal spiritual seperti ini tak bisa diukur dengan uang. Jadi, tulisan ini sungguh-sungguh lahir dari keyakinan, bukan karena saya diancam oleh dua punggawa jejaring duniasantri itu.

Maka, dalam momen Zikir Kemerdekaan dan Perayaan hari lahir yang keenam jejaring duniasantri yang bekerjasama dengan Media Group Tebuireng ini, Mbah, kami mohon doa dan restu. Semoga pemikiran-pemikiran panjenengan, terutama soal pendidikan, kebangsaan, dan keberpihakan pada rakyat, bisa menjadi fondasi kami dalam berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Tujuannya, supaya kami tidak salah langkah dan membuat kebijakan yang merugikan rakyat, seperti yang sering terjadi di negeri yang panjenengan perjuangkan kemerdekaannya ini.

Mbah Hasyim, izinkan saya menutup surat ini dengan mutiara kalam panjenengan, “Jika suatu amal tidak dilandasi keikhlasan, maka tidak akan tambah kecuali kegelapan di dalam hati, dan barang siapa yang berserah diri pada Allah, maka Allah akan berpihak kepadanya.”

Mbah Hasyim, kami sadar, di usia kami yang masih belia, banyak hal harus diperbaiki dan diperjuangkan.

Salam takzim,
Mahwi Air Tawar

*Dibacakan pertama kali dalam wayangan ulang tahun ke-6 jejaring duniasantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, 20 Agustus 2025.

Tinggalkan Balasan