Itulah percakapan pendek yang ikut mengantarkan jenazah si pelacur ke pemakaman. Itulah percakapan pendek yang kemudian beredar dari mulut ke mulut; selalu ada sosok asing datang melayat pada setiap kematian, dan selalu memberi kesaksian bahwa si mayat adalah orang baik agar malaikat mencatatnya sebagai ahli surga.
***

Itulah yang diceritakan orang bertahun-tahun kemudian. Ada sosok perempuan tak dikenal yang meninggal di sebuah kos-kosan gang sempit. Ia hidup sebatang kara. Para tetangga juga tak mengenal siapa dirinya. Yang orang tahu, sosok perempuan itu sering terlihat berjalan seperti angin, menyusuri jalanan, dengan kerudung yang selalu menggantung di punggung.
Ada yang menyebut ia meninggal karena suatu penyakit. Pada mulanya orang-orang sekitar ragu-ragu untuk datang melayat. Hanya beberapa orang yang terlihat mengurus jenazahnya. Mereka tak lain adalah petugas pemakaman di kota itu.
Tapi orang-orang kemudian dibuat takjub oleh suatu pemandangan aneh. Ketika keranda mayat perempuan itu diangkat dan digotong menuju ke pemakaman, terlihat sosok-sosok asing ikut mengantarkan jenazah. Mereka berjalan beriringan di belakang keranda. Iring-iringannya tak putus-putus, memenuhi semua jalan yang ada. Jumlah pengantar jenazah itu sudah tak bisa dihitung lagi. Sampai jenazah tiba di kuburan, sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah lautan manusia.
“Siapa mayat yang dikuburkan itu?” tanya seseorang yang akhirnya ikut terseret barisan pengantar jenazah ke pemakaman karena dibuat takjub oleh pemandangan aneh kepada orang tak dikenal yang ada di sampingnya.
“Dialah orang yang melapangkan jalan ke surga semua orang.”
“Ya, tapi siapa dia?”
“Dia orang baik. Kamilah saksinya.”
Yang bertanya hanya bisa menunduk dan mengelus dadanya. Dan sejak itu, tak ada lagi cerita tentang sosok asing yang selalu datang melayat pada setiap kematian.
