Ketika kita berbicara tentang tafsir di masa Nabi, maka pasti berkaitan juga dengan Sahabat. Karena, mereka berada di masa yang sama. Lalu, bagaimana dengan Sahabat, apakah mereka paham tentang Al-Qur’an sama seperti Nabinya.
Dalam hal ini pada umumnya, Sahabat memahami Al-Qur’an juga, karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa mereka. Tetapi, mereka tidak memahaminya secara detail, bahkan meskipun telah memahami sedemikian rupa, ternyata pemahaman mereka masih tetap berbeda-beda.

Contohnya saja, ketika sahabat Nabi, Umar bin Khattab, membaca ayat. وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا. Para Sahabat mengerti makna fakihah, tapi mereka tidak memahami apa makna dari al-ab.
Contoh lainnya, Sahabat Nabi, Ibnu Abbas RA pada awalnya belum memahami makna fathir pada ayat فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ, akan tidak tetapi tidak lama kemudian Ibnu Abbas RA memahaminya, karena mendengar kata fathir dari perselisihan dua orang Arab, yang terjadi di dekat sumur.
Ada beberapa cara Sahabat dalam memahami Al-Qur’an ketika masa Nabi. Pertama, bersandar kepada Al-Qur’an. Ada ayat yang bentuknya mujmal di suatu tempat ayat dan di tempat lain datang dengan bentuk mubayyin. Adapula yang mutlaq dan ‘amm lalu datang kemudian muqayyad dan takhsis-nya, seperti pada ayat:
اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ
yang ditafsirkan dengan ayat: حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ .
Kedua, bersandar kepada baginda Nabi. Baginda Nabi SAW merupakan penjelas bagi Al-Qur’an. Oleh karena itu, Sahabat merujuk kepada Nabi jika terdapat ayat yang belum bisa dipahami maknanya. Sebagaimana dalam hadit yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud RA, ketika turun ayat:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
Para Sahabat tidak memahami maksud dari lafal bizu lmin, sehingga mereka bertanya kepada Nabi SAW akan makna yang dimaksud oleh ayat tersebut. Nabi pun menjawab. Demikian kita telah mendapat sedikit gambaran, bagaimana tafir di masa Nabi SAW, bagaimana para sahabat menafsirkan Al-Qur’an ketika bersama Nabi.
Mengajarkan Tafsir
Sahabat pasti memahami makna ayat Al-Qur’an yang turun kepada Nabi, hal itu karena mereka berbahasa Arab. Tetapi bukan tidak mungkin akan terjadi perbedaan pemahaman dalam memahami ayat Al-Qur’an. Terutama pada hal gharib dan mutashabih.
Ibnu Qutaibah berkata, “Pemahaman orang-orang Arab berbeda-beda dalam memahami seluruh makna yang ada dalam Al-Qur’an, terutama dalam hal gharib dan mutashabih. Tetapi, pemahaman mereka saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya.”
