Tafsir Jalalain dan Kejumudan Intelektual

Akibatnya, rasionalitas umat Islam melemah. Mereka lebih mudah terjebak pada narasi-narasi takhayul, kehilangan daya kritis, serta tidak memiliki kepekaan terhadap konteks zaman. Padahal, Al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya.

Tafsir Jalalain tidak salah dalam konteks zamannya. Metode penafsiran yang digunakan sesuai dengan budaya dan kapasitas keilmuan saat itu. Namun, dalam konteks modern, penafsiran mistis harus dilihat sebagai ekspresi budaya yang perlu dikritisi, bukan sebagai kebenaran tunggal yang absolut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mistis dan mitologis dalam Tafsir Jalalain adalah realitas teks yang perlu ditempatkan dalam konteks sejarah intelektual Islam. Namun, mempertahankan tafsir tersebut tanpa kritik atau pembaruan hanya akan memperparah kejumudan berpikir umat Islam.

Reformasi pemahaman keagamaan, penyegaran kurikulum tafsir, dan penguatan nalar kritis di kalangan umat menjadi langkah penting untuk membawa Islam kembali menjadi agama yang mencerdaskan dan membebaskan.

Tinggalkan Balasan