Malam itu, langit tak hanya kelam. Ia seakan mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menolak bicara. Tak ada bintang, tak ada angin, hanya satu bulatan pucat yang tergantung pasrah—bulan yang merah seperti luka yang belum kering.
Laras menatapnya dari jendela kamarnya yang menghadap utara. Rumah panggung tua itu sudah berderit minta ampun, tapi hanya dari situlah ia bisa melihat bulan tanpa penghalang. Ia tidak tahu sejak kapan bulan bisa berwarna seperti itu. Merah, seperti tertusuk sedih yang terlalu dalam. Merah, seperti air mata yang keluar bukan dari mata, tapi dari luka yang disimpan terlalu lama.

“Ibu, lihat. Bulannya berdarah,” katanya lirih.
Ibunya hanya menoleh sekilas, lalu kembali menggulung selendang di bahunya. “Itu bukan darah, Laras. Itu cermin.”
“Cermin?”
“Iya. Kadang, langit cuma memantulkan isi bumi.”
