Kau, yang memecah ombak
Mati-mu hidup, hidup-mu hilang,
seperti debur ombak

yang tak bisa lagi menggenang,
mencari rumah di antara ruas bintang.
Kapal itu, tubuh kayu,
dikelilingi doa-doa yang tak selesai
di sinilah, jalan awal akhir
bertemu.
Kau tak kembali ke laut,
tak juga tinggal di darat,
hanya diam di antara detak angin
yang tertiup cepat.
Kapalmu berlabuh
di tempat yang tak mengenal arah—
menghadirkan kita,
sejauh-jauhnya yang pernah.
