Takjil dan Etika Sosial

Di bulan Ramadan ini, kita menemui berbagai bakti sosial yang menjadi agenda tahunan masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim. Salah satunya ialah berbagi takjil menjelang buka puasa. Secara implisit, kegiatan ini mengandung tujuan-tujuan etis yang berperan penting dalam mewujudkan solidaritas, keharmonisan, dan kesejahteraan masyarakat. Selain memberi sesuatu yang dapat membahagiakan orang lain, kegiatan berbagi takjil adalah manifestasi (wujud nyata) dari etika sosial.

Setidaknya terdapat tiga nilai etis yang terdapat dalam kegiatan bagi-bagi takjil ini. Pertama, saling berbagi. Nilai ini merupakan salah satu nilai yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, manusia adalah makhluk sosial. Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Karena itulah, berbagi kepada sesama memang seyogyanya dilakukan. Mengingat, bahwa masih banyak manusia yang membutuhkan uluran tangan kita agar terbebas dari belenggu penderitaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kedua, tanggung jawab. Dalam diri kita masing-masing, sebenarnya ada dua tanggung jawab; tanggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain. Keduanya tidak bisa dipisahkan begitu saja. Setelah bertanggung jawab kepada diri sendiri, selanjutnya yang harus dilakukan ialah bertanggungjawab kepada sesama (sosial). Tanggung jawab yang dilakukan tentu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Tidak harus sama dengan yang lain, dan tidak bersifat memaksa. Namun, mau bagaimanapun, tanggung jawab harus tetap dilaksanakan. Dalam diri kita sendiri maupun kepada sesama umat manusia.

Ketiga, menjalin solidaritas masyarakat. Seperti yang telah diuraikan di atas, solidaritas tidak terbangun hanya dengan konsep kemanusiaan yang bersifat abstrak. Ia akan terbangun dengan langkah-langkah konkret di masyarakat. Dengan tindakan yang real, solidaritas, keharmonisan, dan masyarakat madani (istilah Islam) akan terwujud dalam kehidupan kita.

Yogyakarta, 2026.

Tinggalkan Balasan