Tanggung Jawab Makhluk yang Berpikir

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah melontarkan satu kalimat yang pendek, tetapi panjang bayangannya: “Seluruh permasalahan yang ada di kolong langit adalah urusan orang-orang yang berpikir.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, semakin lama direnungkan, semakin terasa bahwa ia bukan sekadar kutipan, melainkan tagihan moral kepada setiap manusia yang mengaku memiliki akal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita sering memuji kecerdasan. Banyak mendirikan universitas, memberi gelar sarjana, profesor, doktor, dan berbagai macam titel yang panjangnya kadang hampir menyamai nama orangnya.

Barangkali memang demikian nasib akal di zaman sekarang. Ia lebih sering dipakai untuk memenangkan perdebatan daripada menyelesaikan persoalan. Lebih rajin menyusun presentasi daripada mengurangi penderitaan. Padahal, sejak mula manusia dimuliakan bukan karena ototnya, bukan pula karena hartanya, melainkan karena kemampuan berpikir yang dianugerahkan Tuhan.

Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia menggunakan akalnya. Kalimat “afala ta’qilun”, “afala tatafakkarun“, atau “liqawmin yatafakkarun” berulang dalam banyak ayat. Agama rupanya tidak pernah takut kepada pikiran. Yang justru ditakutkan agama adalah ketika manusia berhenti berpikir, lalu menyerahkan hidupnya kepada kebiasaan, prasangka, atau kekuasaan yang tidak pernah dipertanyakan.

Cendikiawan Iran Ali Syari’ati mencoba melangkah lebih jauh. Baginya, kemiskinan yang paling berbahaya bukanlah ketika seseorang tidak memiliki makanan atau pakaian, melainkan ketika ia kehilangan keberanian untuk berpikir. Sebab, orang yang lapar masih mungkin kenyang esok hari. Tetapi orang yang berhenti berpikir akan tetap miskin sekalipun rekeningnya penuh.

Lalu siapakah orang-orang yang berpikir itu?

Jawabannya tidak serumit ujian filsafat. Mereka adalah kita semua yang diberi nikmat akal. Sebab, akal bukan hak istimewa segelintir profesor, melainkan amanah setiap manusia.

Kolomnis Mahbub Djunaidi pernah berseloroh bahwa otak adalah bagian dari tubuh manusia. Maka tidak baik memusuhi bagian tubuh sendiri, apalagi yang letaknya di kepala. Kelakar itu mengundang tawa. Tetapi, seperti hampir semua humor Mahbub, tawanya hanya pembuka sebelum tamparannya terasa.

Hari-hari ini, yang sering dimusuhi justru pikiran. Orang lebih mudah percaya potongan video daripada membaca satu buku. Lebih cepat menyebarkan kemarahan daripada memeriksa kebenaran. Kita hidup pada masa ketika kebisingan lebih dihargai daripada kejernihan berpikir.

Di tengah keadaan semacam itu, filsuf Antonio Gramsci mengingatkan bahwa kaum intelektual tidaklah tunggal. Ada intelektual tradisional dan ada intelektual organik.

Intelektual tradisional merasa tugasnya selesai ketika kuliah usai dan tugas akhir dikumpulkan. Dunia baginya berhenti di ruang munaqosyah. Ia fasih menjelaskan teori ketimpangan, tetapi asing dengan wajah buruh yang upahnya tak cukup untuk membeli beras. Ia hafal konsep kemiskinan struktural, tetapi tidak pernah berjalan menyusuri gang sempit tempat kemiskinan itu tinggal.

Sebaliknya, intelektual organik tidak berhenti pada pengetahuan. Ia turun menemui masyarakat, menginventarisasi persoalan, mengorganisasi warga, mendampingi yang lemah, dan menjadikan ilmu sebagai alat pembebasan. Ilmu baginya bukan pajangan di rak perpustakaan, melainkan perkakas untuk memperbaiki kehidupan.

Karena itu, ukuran seorang intelektual bukanlah seberapa banyak ia dikutip, melainkan seberapa banyak persoalan yang berhasil ia bantu selesaikan.

Sebagai Nahdlhiyin, kita patut mengenang ucapan KH Idham Chalid yang suatu ketika beliau mengatakan bahwa mencari mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) seperti mencari penjual es keliling pada malam hari. Sulit sekali ditemukan.

Hari ini keadaan berubah. Mahasiswa NU tumbuh di berbagai kampus. Sarjana NU bertambah banyak. Jumlahnya barangkali sudah lebih mudah dijumpai daripada warung kelontong Madura yang hampir selalu ada di setiap sudut kota.

Sayangnya, bertambahnya jumlah sarjana tidak selalu sejalan dengan berkurangnya jumlah persoalan.

Korupsi tetap ramai. Kemiskinan belum juga merasa malu untuk pergi. Pengangguran masih bertahan. Ketimpangan sosial semakin pandai berganti wajah. Bahkan kadang kita menyaksikan ilmu pengetahuan hanya menjadi pelengkap pidato, bukan penuntun kebijakan.

Di sinilah kegelisahan itu bermula. Mengapa perguruan tinggi terus melahirkan intelektual, tetapi masyarakat masih kekurangan penyelesai masalah?

Barangkali karena sebagian kita terlalu sibuk mengejar gelar, sementara lupa mengejar kegunaan. Gelar akhirnya berubah menjadi ornamen di belakang nama. Indah dilihat pada kartu nama, tetapi tidak selalu terasa manfaatnya di tengah masyarakat.

Padahal, sebagaimana diingatkan Paulo Freire, pendidikan bukanlah proses mengisi kepala manusia dengan pengetahuan, melainkan proses membangunkan kesadaran agar manusia mampu mengubah dunia yang tidak adil. Pendidikan yang hanya melahirkan lulusan tanpa keberpihakan sosial sesungguhnya sedang gagal menjalankan tugas sejarahnya.

Maka tidak mengherankan bila hari ini kebijakan publik sering terasa jauh dari kehidupan rakyat. Bahasa pemerintah semakin ngawur meski dibungkus gaya teknokratis, tetapi dapur masyarakat tetap sulit mengepul. Angka-angka ekonomi tak membaik, dan keresahan sosial melambung tinggi.

Yang lebih berbahaya lagi ialah ketika semua itu hanya menjadi bahan obrolan di warung kopi. Kita mengutuk ketidakadilan sambil menyeruput kopi. Kita mengecam korupsi sambil menggulirkan layar telepon genggam. Kita marah kepada kekuasaan, tetapi kemarahan itu selesai sebelum tagihan parkir dibayar.

Padahal sejarah bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang yang sekadar pandai mengeluh. Bangsa ini dibangun oleh mereka yang berani berpikir, berani bersikap, dan berani memikul risiko dari pikirannya sendiri.

Karena itu, tugas intelektual sesungguhnya bukan menjadi penonton sejarah. Tugasnya adalah ikut menentukan ke mana sejarah bergerak.

Pramoedya benar. Persoalan di kolong langit memang urusan orang-orang yang berpikir. Tetapi ada satu kalimat yang perlu kita tambahkan: Berpikir bukanlah kehormatan. Berpikir adalah tanggung jawab.

Dan setiap kali seorang intelektual memilih diam di hadapan ketidakadilan, pada saat itulah ia sedang mengkhianati nikmat terbesar yang pernah Tuhan titipkan kepadanya: yakni akal.

Daftar Pustaka:

Freire, P. (2005). Pendidikan Kaum Tertindas (Terj.). Jakarta: LP3ES.

Gramsci, A. (1971). Selections from the Prison Notebooks. New York: International Publishers.

Madjid, N. (1992). Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.

Shariati, A. (1980). On the Sociology of Islam. Berkeley: Mizan Press.

Toer, P. A. (2003). Rumah Kaca. Jakarta: Lentera Dipantara.

Tinggalkan Balasan