Muktamar NU: Antara Sistem dan Sinten

Seandainya seluruh rangkaian Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) dipersempit menjadi satu pertanyaan, “Sinten?” maka sesungguhnya kita sedang mengecilkan sebuah peristiwa besar menjadi sekadar kompetisi nama.

Kita sibuk menghitung peluang siapa yang akan menjadi Rais Aam, siapa yang akan menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU, dan siapa yang didukung siapa. Tapi kita sering lupa bertanya: NU lima tahun ke depan hendak dibawa ke mana? Pertanyaan kedua ini jauh lebih berat, tetapi justru lebih penting dan berdampak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menjelang Muktamar NU, yang akan digelar akhir Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur, pertanyaan sinten memang selalu menjadi magnet. Di grup WhatsApp warga NU, forum para kiai, ruang akademik, berbagai media sosial, hingga berbagai media massa maupun online nasional, nama-nama calon terus bermunculan.

Berbagai media juga telah mengulas figur-figur yang diperkirakan masuk dalam bursa Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) maupun calon Ketua Umum PBNU. Ada kiai karismatik yang dinilai memiliki kedalaman ilmu dan kewibawaan moral. Ada organisator berpengalaman yang dianggap mampu mengonsolidasikan jam’iyah. Ada pula tokoh muda yang diproyeksikan untuk membawa energi baru bagi NU.

Semua itu merupakan dinamika yang sehat. Organisasi sebesar Nahdlatul Ulama memang membutuhkan proses regenerasi yang terbuka, bermartabat, dan penuh adab. Muktamar bukan ruang untuk saling meniadakan, melainkan ruang untuk memilih amanah terbaik melalui mekanisme yang telah diwariskan oleh para muassis dan pendahulu.

Namun, jika seluruh perhatian hanya berhenti pada pertanyaan siapa, Muktamar kehilangan makna strategisnya.

Sebab, sejarah NU tidak pernah hanya dibangun oleh figur. Ia dibangun oleh tradisi, nilai, tata kelola, keputusan-keputusan besar, dan sistem yang melampaui usia para pemimpinnya.

Riuh Sinten, Sunyi Sistem

Ada ironi yang hampir selalu muncul menjelang Muktamar. Semakin dekat hari pemilihan, semakin riuh pembicaraan mengenai figur dan calon. Sebaliknya, diskusi mengenai agenda substantif sering kali tenggelam.

Padahal, jabatan hanyalah alat. Tujuan akhirnya adalah kemaslahatan umat. Ada sebuah ungkapan bijak:

ٱلرِّجَالُ يَرْحَلُونَ وَٱلْمُؤَسَّسَاتُ تَبْقَى

Artinya: Orang datang dan pergi, tetapi organisasi harus tetap hidup.

Ungkapan sederhana ini layak menjadi cermin bagi seluruh warga NU. Rais Aam akan berganti. Ketua umum juga regenerasi. Pengurus akan datang silih berganti. Bahkan generasi juga akan mengalami perubahan. Akan tetapi, NU harus tetap kokoh sebagai jam’iyah diniyyah wa ijtima’iyyah yang menjaga agama sekaligus merawat bangsa.

Organisasi sebesar NU tidak boleh menggantungkan masa depannya pada kharisma seorang individu. Sebesar apa pun seorang pemimpin, ia tetap memiliki batas waktu. Yang membuat organisasi ini bertahan lebih dari satu abad justru adalah sistem, tradisi, dan tata kelola yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru tanpa kehilangan jati dirinya.

Tinggalkan Balasan