Tentu saja, hanya orang-orang muda atau orang-orang dewasa yang masih sehat bugar tubuhnya, yang mampu mengikuti ritme “balapan” tarawih berjamaah tersebut —plus kanak-kanak dengan segala tingkah polahnya.
Nah, karena itulah, pinisepuh kampung saya, orang-orang yang sudah uzur usia, yang tubuhnya sudah reyot, sudah buyutan, sudah jompo, dan ketika berjalan pun harus bertumpu pada tongkat, tidak pernah tampak ikut tarawih berjamah baik di masjid maupun di langgar. Mereka tidak bertarawih? Tidak juga.

Rupanya, diam-diam mereka menyelenggarakan tarawih berjamaah sendiri. Tidak di masjid atau musala-musala, melainkan di rumah salah satu anggota “geng jompo” itu. Imamnya juga anggota “geng jompo” itu, seorang kiai kampung yang sudah sangat uzur. Jemaahnya? Belasan. Kadang puluhan orang. Mereka, tentu saja, kakek-kakek dan nenek-nenek.
Maka, melihat tarawih “geng jompo” ini seperti layaknya menonton adegan slow motion dari sebuah film. Sang imam, dengan suara yang lirih, kadang terputus kadang tak terdengar, membaca surat-surat pendek dengan irama yang lambat. Bahkan sangat lambat. Begitu juga dengan gerakan-gerakan dalam salat. Benar-benar slow motion.
