Tarawih ala “Geng Jompo”

Bagaimana dengan jemaahnya? Beragam macam. Ada yang salat sambil duduk. Ada yang sambil terbungkuk-bungkuk. Ada yang tubuhnya doyong ke kiri atau ke kanan, bahkan tertiup angin semilir pun seakan bisa rubuh. Ada pula yang baru beberapa rakaat sudah “menyerah”, memilih selonjoran. Atau bersandar di dinding.

Sang imam pun bertindak  “kooperatif”. Setiap kali habis uluk salam, ia akan menoleh ke belakang, melihat kondisi jemaahnya. Jika banyak yang sudah ngos-ngosan, sang imam tak akan lekas berdiri. Ia akan memberi jeda kepada jemaahnya untuk mengambil napas, memulihkan tenaga yang tersisa. Beberapa waktu kemudian, barulah tarawih dilanjutkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Karuan saja, jika di masjid atau langgar-langgar tarawih sudah tuntas sebelum pukul 21.00, maka tarawih di “geng jompo” ini baru berakhir sekitar pukul 24.00, bahkan lebih. Menjelang dini hari para kakek-nenek ini baru berjalan pulang ke rumah masing-masing. Itu pun, ada saja yang tarawihnya tak sampai tuntas 20 rakaat plus tiga witir. Bukan lantaran mereka bukan nadliyin, tapi semata-mata karena batas kemampuan melawan keterbatasan.

Maka, ketika orang-orang di berbagai daerah meributkan anjuran untuk tidak tarawih berjamaah di masjid dan lebih baik beribadah di rumah saja karena pandemi, pinisepuh “geng jompo” di kampung saya masih terus tersenyum saat melangkah menuju tempat tarawih mereka. Itulah yang membuat saya selalu takjub.

Tinggalkan Balasan