Memang saya masih muda, tetapi untuk jamaah tarawih saya lebih memilih surau kecil dan berbaur dengan kakek-kakek dan nenek-nenek yang cantik. Ada banyak hal yang dapat saya renungi dan menjadi pelajaran dari salat berjamaah bersama mereka.
Di surau yang saya tempati, saya selalu bersebelahan dengan seorang kakek. Namanya Ahmad, saya biasa memanggilnya Mbah Mad.

Mungkin umurnya sudah enam atau tujuh puluhan. Usianya yang renta dapat saya rasakan ketika tangan dan hidung saya mencium tangannya ketika selesai salat isya. Napasnya tak lagi sunyi. Tarikannya selalu menimbulkan suara serak di kerongkongan yang sudah keriput itu.
Terkadang keluhan muncul setelah salam di setiap salat tarawih yang dikerjakannya. Meskipun demikian, beliau lebih memilih salat secara sempurna dengan berdiri dari pada duduk. Dan di sinilah keseruan saya berjamaah di surau.

Setuju banget dan apan yang kita dapatkan dari tulisan ini. Karena, setiap orang bisa membawa pelajaran bagi diri kita. Beberapa nilai kebaikan bahkan hanya baru bisa temukan ketika berinteraksi dengan orang yang notabene ‘di bawah’ kita. Dan seringkali, kita sudah paham dan sering mendengar nilai kebaikan ini. Misalkan tentang kesederhanaan Mbah Mamad itu, seberapa sering telinga dan pikiran kita ‘berinteraksi’ dengan yang namanya konsep kesederhanaan dalam hidup. Namun, ketika secara langsung bisa berinteraksi dengan orang-orang yang benar-benar merepresentasikan kesederhanaan ini, maka barulah disitu kita akan mendapatkan “feel” atau begitu terasanya pelajaran itu.