Melihat kegigihan Mbah Mamad membuat saya merasa hina di hadapan Allah Swt yang saat ini banyak memberikan anugerah melebihi kakek tersebut, tapi saya campakkan dengan maksiat. Saat ini saya tidak memosisikan Allah Swt sebagai Tuhan yang maha pengasih, penyayang, dan pemaaf. Mungkin yang lebih tepat saya memosisikan Allah Swt sebagai Tuhan yang telah kecewa kepada saya. Ia menegur dengan menjadikan sang kakek sebagai renungan pada hamba-Nya yang tak kunjung sadar. Ya Allah.
Dari kakek ini saya juga mendapat pelajaran hidup selain teguran yang saya rasakan tadi. Beliau tinggal bersama istri dan satu anak lelakinya dengan kesederhanaan. Tempat tinggalnya sangat sederhana, hanya berdinding anyaman bambu yang menutupi di sisi kanan dan kirinya. Tapi dialah yang berkepemilikan atas surau yang ditempati banyak orang untuk salat jamaah. Beliau sisihkan hartanya untuk si surau agar berdinding batu bata dan berkipas angin. Sedangkan yang beliau tinggali adalah rumah sederhana bersama keluarganya. Sungguh patut ditiru kesederhanaan beliau dalam hidup dan kemewahannya dalam menghidupi syiar agama.

Di pengujung Ramadan, tepatnya ketika malam takbir Idul Fitri, Mbah Mamad biasanya akan membawa setengah karung beras untuk diberikan kepada imam salat tarawih di suraunya. Hal ini sebagai bentuk terima kasih sudah menyempatkan waktu menjadi imam salat tarawih.
Duh, lagi-lagi saya tersentuh dengan akhlak beliau ini. Sulit menemukan orang seperti beliau ini. Tetap memberi di kala kebutuhan diri dan keluarga belum sempurna terpenuhi. Semoga Allah Swt membalas kebaikan-kebaikan beliau dengan rahmat, pahala,surga, dan keridaan di sisi-Nya.

Setuju banget dan apan yang kita dapatkan dari tulisan ini. Karena, setiap orang bisa membawa pelajaran bagi diri kita. Beberapa nilai kebaikan bahkan hanya baru bisa temukan ketika berinteraksi dengan orang yang notabene ‘di bawah’ kita. Dan seringkali, kita sudah paham dan sering mendengar nilai kebaikan ini. Misalkan tentang kesederhanaan Mbah Mamad itu, seberapa sering telinga dan pikiran kita ‘berinteraksi’ dengan yang namanya konsep kesederhanaan dalam hidup. Namun, ketika secara langsung bisa berinteraksi dengan orang-orang yang benar-benar merepresentasikan kesederhanaan ini, maka barulah disitu kita akan mendapatkan “feel” atau begitu terasanya pelajaran itu.