Setelah sekian lama, saya meninggalkan kesibukan rutin dan memilih zona yang dipenuhi kemalasan. Pada kesempatan ini saya terdorong untuk mencoba meregangkan jari-jemari dengan menulis.
Liburan pesantren ternyata sangat perlu dan bukan sekadar untuk rehat dari rihlah menimba ilmu. Berbaur dengan masyarakat justru merupakan sumur pengetahuan yang membawa banyak hikmah dan pelajaran.

Sebagai santri yang sejak kecil hidup di kampung, surau bukanlah tempat yang sukar untuk dijumpai. Begitu banyak dijumpai surau-surau kecil yang biasanya ketika tarawih shaf salatnya diisi oleh mereka yang sudah berumur tua.
Anak mudanya ke mana? Biasanya mereka yang muda lebih memilih masjid sebagai tempat tarawih karena bisa berbaur dengan teman sejawatnya.

Setuju banget dan apan yang kita dapatkan dari tulisan ini. Karena, setiap orang bisa membawa pelajaran bagi diri kita. Beberapa nilai kebaikan bahkan hanya baru bisa temukan ketika berinteraksi dengan orang yang notabene ‘di bawah’ kita. Dan seringkali, kita sudah paham dan sering mendengar nilai kebaikan ini. Misalkan tentang kesederhanaan Mbah Mamad itu, seberapa sering telinga dan pikiran kita ‘berinteraksi’ dengan yang namanya konsep kesederhanaan dalam hidup. Namun, ketika secara langsung bisa berinteraksi dengan orang-orang yang benar-benar merepresentasikan kesederhanaan ini, maka barulah disitu kita akan mendapatkan “feel” atau begitu terasanya pelajaran itu.