Hal tersebut termaktub dalam gelar-gelar yang disematkan pada raja sebagai wakil (khalifah) Tuhan, untuk menata dan mempercantik bumi kemanusiaan (Hamemayu Hayuning Buwana). Sementara, raja-raja di Eropa bersifat monarki absolut, yaitu penjelmaan kekuasaan penuh dari Tuhan.
Benedict Anderson dalam bukunya Kuasa Kata; Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia membandingkan konsep kuasa Jawa dengan kuasa Eropa modern. Di Eropa modern, kekuasaan dipahami bersifat abstrak. Ia hanya dapat dimengerti lewat hubungan sebab-akibat, heterogen, tidak terbatas, dan tidak perlu berhubungan dengan moral masyarakat. Sementara konsep kuasa dalam kebudayaan Jawa bersifat konkret, homogen, konstan, dan absah. Dan hampir di seluruh kepulauan Nusantara, kekuasaan didapat setelah melewati laku tapa asketis, sebagai sarana menerima wahyu ilahiah.

Dan pesantren dalam tatanan kerajaan pada waktu itu (kabuyutan) adalah berdiri sendiri. Terdapat istilah bernama tanah perdikan, yaitu tanah pemberian raja. Huma merupakan tanah atau hutan yang diberikan raja kepada kabuyutan untuk dipergunakan dan diambil manfaatnya. Dan tanah tersebut dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Sehingga, fungsi utama kabuyutan sebagai pendidikan moral tetap independen, dan terhindar dari bias kepentingan politik kuasa kerajaan.
Salah satu kabuyutan yang masyhur dan tercatat dalam Carita Parahyangan di awal, terletak di sebuah gunung bernama Galunggung, kemudian nama yang diambil adalah Kabuyutan Galunggung. Dan gunung, dalam khasanah klasik manusia di kepulauan Indonesia, merupakan tempat yang dilindungi dan terjaga. Orang yang melakukan perjalanan dan pendakian gunung disebut sang salik, yaitu orang yang bersuluk untuk belajar dan menyerap pengetahuan dari perjalanannya hingga mencapai puncak gunung., Masyarakat kita mempercayainya sebagai tempat bersemayamnya para dewa, yaitu tempat di mana manusia mampu berdialog dengan Tuhan.
Kemudian, ketika seorang salik tersebut telah mampu mendengar suara lirih diriNya yang jernih dan hening, perlahan ia akan mengalami pencerahan. Kisah para nabi dan rasul banyak mengajari hal ini, terutama Rasul Muhammad yang seringkali gelisah, lalu pergi menyendiri di Gua Hira, hingga mendapatkan wahyu pertama.
Para pejalan yang naik gunung, secara etimologi bisa kita konteks-kan hari ini sebagai para santri atau pelajar, yaitu sama-sama berjalan untuk menuntut ilmu. Satu hal yang menarik dari pola pendidikan tradisional ini, adalah adanya guru sebagai fungsi cerminan diri dan stabil bagi kehidupan lingkungannya. Karena seorang guru berfungsi sebagai cerminan diri, ia menjadi daya-tiru bagi para muridnya, dan kelak mengantarkan pada guru sejati, yaitu diri sang murid itu sendiri. Daya-tiru ini dalam tradisi platonian dan aristotelian disebut perilaku mimesis, yaitu meniru seseorang yang dianggap sebagai guru.
A Setyo Wibowo, seorang pengajar filsafat yang memfokuskan studi akademiknya mempelajari Plato di Jerman, mempelajari pola pendidikan mimesis ini, pun dilakukan dalam tradisi Katolik, yaitu untuk mendidik bagi para calon imam gereja.
Sukarno adalah contoh yang bisa kita lihat bagaimana ia melakukan mimesis itu. Kita tahu, Sukarno muda dititipkan oleh ayahnya ke rumah padepokan Cokroaminoto di Surabaya. Di padepokan itu, Sukarno bertemu Semaun, Kartosuwiryo, Muso, dan teman-teman pergerakan nasional lainnya. Cokroaminoto selain sebagai sosok sentral dalam padepokan itu, juga merupakan orator ulung di kalangan masyarakat luas. Gaya orator seorang Cokroaminoto ini menjadi ilham mimesis Sukarno dalam meniru gurunya. Kerap Sukarno sering mengikuti Cokroaminoto ketika menghadiri undangan dari masyarakat, bahkan jika Cokroaminoto jatuh sakit, maka Sukarno yang menggantikannya.
Surabaya menjadi kota pergerakan dan disebut sebagai dapurnya nasionalisme. Seiring wacana-wacana besar yang berkembang di kancah global, konsep negara bangsa menjadi daya pemikat para pejuang pada masa itu. Dari sini muncul imajinasi-imajinasi baru yang terbayang akan laju tatanan baru sebuah bangsa.
Ben Anderson, seorang antropolog Indonesianis merekam pola pergerakan itu di tiga kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan memaknainya sebagai Imagined Communities, yaitu komunitas bangsa terbayang. Di kemudian hari, orang-orang terpelajar yang berguru di padepokan Cokroaminoto ini menjadi motor penggerak kesadaran berbangsa, dan melahirkan kemerdekaan Indonesia modern.
Kita bisa melihat bagaimana sebuah padepokan yang pada mulanya berfungsi sebagai pendidikan moral sejak dini, berkembang menjadi pusat penyongsong peradaban baru. Tempat diolahnya ide dan gagasan baru yang sedang berkembang, didiskusikan hingga pada akar kawah candradimuka. Sehingga, para murid yang menempa diri di padepokan itu, kelak menjadi seorang terpelajar yang tercerahkan. Lalu, tugas seorang seorang terpelajar berikutnya adalah turun gunung, yaitu memasyarakatkan-ulang dirinya sesederhana mungkin. Ini menjadi siklus utama, dan terjadi di semua peradaban. Jika siklus ini tersendat dan tidak berjalan, maka masyarakat itu akan tergenang keruh dan mati.
