Tasik dan Akar Kepesantrenan

Frasa turun gunung sempat menjadi populer di masa awal revolusi di Bandung.  Waktu itu para pejuang dan kaum terpelajar menyematkan diri mereka dengan istilah turun gunung di saat mereka memasyarakat-ulang diri di tengah masyarakatnya sendiri. Kita bisa menyaksikannya pula bagaimana frasa turun gunung ini hidup dan menjadi populer, dalam film yang disutradarai oleh Usmar Ismail berjudul Lewat Djam Malam. Kita bisa menyaksikan dengan seksama, bagaimana seorang terpelajar itu memiliki tugas moral dan distribusi pengetahuan pada masyarakatnya. Artinya, seorang terpelajar itu harus kembali pada akar dirinya bermula, yaitu masyarakat.

Begitupun di masa kerajaan tradisional, menjadi terpelajar ini adalah tugas para ksatria. Ada pula yang menyebutnya ksatria malam, sebab mereka hadir di setiap peralihan generasi zaman dan pergantian kekuasaan. Di antara peralihan itu biasa terjadi krisis. Dalam legenda masyarakat Sunda, terdapat contoh seorang rahib bernama Bujangga Manik yang menggambarkan ksatria malam. Dalam beberapa catatan, ia hidup di pengujung peralihan Dayeuh Pakuan Padjajaran. Lalu ia berkelana, berguru langsung pada alam, tercatat ia melakukan dua kali perjalanan mendaki gunung-gunung Jawa-Bali. Akibat keresahannya yang melihat kecamuk politik dari peralihan kekuasaan dan pergantian aliran arus zaman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Terdapat ungkapan menarik yang berbunyi “Beunang guguru ka gunung, beunang tatanya ka Guriang.” Hal itu merupakan ungkapan masyarakat Sunda yang muncul dari pergaulan hidupnya yang lekat dengan gunung. Ungkapan tersebut hadir dalam bahasa batin yang mencoba diungkapkan untuk terus menjaga keterhubungan manusia dengan lingkungan alam gunung. Pandangan dan cara hidup penghayatan (esoteris) ini merupakan ungkapan lelaku-batin manusia dalam mengekspresikan kemanusiaannya. Yaitu, ungkapan meta-filosofis dari nilai hidup yang dicari, dihayati dan dijalankan.

Dengan demikian, menjadi terlihat bahwa ungkapan ‘keterpesonaan dan ketakterhinggaan’ tidaklah selalu menyangkut persoalan dogma-teologis saja. Ia adalah hasil pergaulan dengan lokalitas alam lingkungannya sendiri, yang kemudian menjadi olah budi yang semakin halus. Ekpresinya sebagian kita kenali dalam cerita rakyat, dialog-pantun, upacara selametan, dan ragam bentuk pamali.

Pasca runtuhnya Dayeuh Pakuan Padjajaran, daerah kekuasaan dialih-limpahkan dari Mataram Islam, kepada pemerintah Hindia Belanda (imperium kolonial). Para ilmuwan kolonial memiliki cara dan pendekatan berbeda untuk memahami gunung dan hutan, yaitu dengan sarana ilmu pengetahuan modern yang saintifik.

Seorang ahli botani, geolog dan seniman bernama Franz Wilhelm Junghuhn, merupakan salah satu orientalis yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan modern tersebut. Pria asal Prusia ini, begitu terpana ketika mendapati dirinya berada di antara hutan, bebukitan, dan gunung-gunung di kawasan Priangan. Dalam disertasi Hawe Setiawan berjudul Sunda Abad ke-19, Tafsir atas Ilustrasi-Ilustrasi Jughuhn, kegiatan saintifik dan menggambar yang dilakukan Junghuhn, merupakan persenyawaan ilmu dan seni yang akan membawa manusia pada wilayah permenungan spiritual, alam raya, hingga Tuhan. Sekali waktu di akhir masa hidupnya, Junghuhn mengatakan bahwa hanya alam sajalah sumber segala kebenaran, serta satu-satunya manifestasi ilahiah.

Keterpesonaan dan ketakterhinggaan di hadapan alam raya, merupakan pergumulan paling purba manusia. Dalam tradisi agama abrahamik, kita mengenal kisah Ibrahim ketika melakukan pencarian diri-Nya. Ia terpesona melihat bintang, bulan, dan matahari. Rasa getar dan takut, bagi filsuf asal Denmark Soren Kiekergard, adalah pergumulan individu dan kebatiniahan. Sebelum wahyu turun pada Ibrahim, terlebih dulu ia mendapati dirinya bergumul di hadapan alam raya semesta. Dengan begitu, pola hidup kebatinan adalah ungkapan naluriah manusia sejak manusia itu mulai ada, yaitu naluri kecenderungan diri ingin berpijak pada dirinya, yang tak terpisahkan dari nilai lokalitasnya.

Lokalitas merupakan tempat bermula manusia itu mulai ada (being), meng-ada (exist), dan membentuk kemen-adaannya (Dasein). Dasein dalam diskursus metafisika Martin Heiddeger adalah proses pembentukan manusia yang tidak pernah stagnan dan dekaden, ia terus membentuk kemenjadiannya.

Jika ditelisik ulang untuk kita melihat kembali lingkungan awal mula manusia itu mulai meng-ada, maka telah terdapat lokus nilai-nilai lokal yang menjadi tatanan sosial zamannya. Tatanan tersebut tercipta, dan terus mengalami perkembangan ‘kemenjadiannya’ dan terwarisi nilai-nilai luhur para pendahulunya. Nilai tersebut kemudian membentuk sistem pengetahuan yang bersifat lokal, holistis, dan kosmologis.

Jonathan Rigg (1862), dalam karya leksikografnya yang berjudul A Dictionary of The Sunda Language of Java menuliskan dua kalimat; “Beunang Guguru ti Gunung – Beunang nanya ti Guriang” adalah contoh yang dipotret oleh seorang Geo-Antropolog, betapa manusia Sunda sangat lekat persentuhannya dengan alam gunung.

Berdasarkan catatan Danadibrata (2009), di satu kecamatan kawasan Kabupaten Tasikmalaya saja, jumlahnya mencapai 3.648 gunung, termasuk satu di antaranya dengan kompleks yang disebut Gunung Sarebu. Dari lanskap ini, kita bisa mempunyai gambaran umum untuk menelisik kembali dan mengembangkan akar identitas kedaulatan diri yang perlu kita telusuri-ulang jejak langkahnya.

Tinggalkan Balasan