Hampir di semua kawasan Asia, terdapat padepokan sebagai pusat tatanan tradisi bermula ada lalu terus dikembangkan. Padepokan tersebut fungsi utamanya adalah pendidikan moral. Posisinya menjadi bagian integral dengan permukaan masyarakat, sehingga padepokan itu menjadi dan dimiliki serta dijaga bersama oleh masyarakat.
Karena memiliki fungsi utama sebagai basis moral, maka sejak belia, setiap individu sudah diperkenalkan dan dididik masa bermainnya dalam padepokan tersebut. Di setiap tradisi dan kebudayaan, diyakini bahwa pendidikan moral adalah hal pertama yang harus ditanamkan pada setiap individu, dan basis moral itu kelak menjadi bekal dasar untuk mengantarkan pada jalan hidup yang akan ditempuh setiap takdir individu. Sejak itu pula, seorang individu mulai menyadari kemeng-ada-annya terlahir dan hidup di dunia.

Di Jepang, misalnya, padepokan tersebut kita mengenalnya bernama dojo, tempat para samurai berlatih, belajar laku hidup, dan merenung. Dojo hampir ada di setiap kota dan saling terhubung, terutama di pusat-pusat kota seperti Kyoto sebagai pengumpul informasi.
Di sanalah bertempat tinggalnya para guru master pedang, membangun dan merawat tradisi mereka yang sudah turun-temurun, untuk kemudian menciptakan peradaban baru secara terus menerus. Di samping itu, dojo menjadi parit pelindung dari berbagai marabahaya ancaman yang datang dari luar. Di samping itu semua, para guru dan ksatria pedang ini berfungsi sebagai kompas haluan, arah-tujuan ke mana masyarakat dan kota itu akan menuju.
Sepintas kita bisa menyaksikannya lewat film Seven Samurai besutan Akira Kurosawa yang masyhur pada masanya, atau lima film series Ruroni Khensin yang diambil dari sosok legenda bernama Himura Battosai.
Di bulan Juni kemarin, film ini merilis series yang keempatnya. Banyak ulasan perihal film itu sejak pertama dirilis, dan belakangan hari menjadi topik perbincangan di kalangan sebagian penggemar berat anime Jepang.
Selain berguru pada master di dojo, kebiasaan yang dilakukan para murid samurai ini adalah hidup mengembara. Dari dojo ke dojo. Disadari oleh mereka bahwa pengembaraan dapat memunculkan gejolak spiritual, dengan begitu hatinya menjadi hidup, karena dihadapkan pada ketidakpastian dan marabahaya. Karena itu, terus belajar untuk mengelola seni dalam hidup, yaitu menata hati dan pikiran, hingga mencapai tahap kematangan keduanya.
Di kawasan Asian Tenggara, khusunya Indonesia, padepokan itu kita kenal hari ini bernama pesantren. Dalam masyarakat tradisional Indonesia, sebagaimana di Jepang, penamaan padepokan biasanya sekaligus mewakili nama daerah tempat padepokan itu hadir. Di kemudian hari, di berbagai belahan wilayah Indonesia, padepokan tersebut menjadi bagian integral beriringan dengan sebuah tatanan kerajaan. Setidaknya terdapat empat penamaan tatanan kenegaraan; ialah kasultanan, kasepuhan, kasunanan , dan kabuyutan. Kita bisa menelusurinya dari mulai Kasultanan Aceh, Mataram, Bima, Banjar, hingga Ternate dan Tidore. Kasunanan Surakarta, Kasepuhan Cirebon. Nama-nama kerajaan, berikut tatanan yang sudah ada di dalamnya itu, masih terberai di berbagai kepulauan masyarakat adat di Indonesia, dan sayangnya hingga hari ini terpinggirkan oleh kehadiran negara modern.
Di masyarakat Jawa Barat, terdapat satu kabuyutan yang tertulis dalam fragmen Carita Parahyangan, yaitu Kabuyutan Galunggung. Meski belum ditemukan bukti arkeologis hingga saat ini, dalam fragmen Carita Parahyangan tersebut, tertulis bahwa di Galunggung terdapat sebuah mandala, atau padepokan, tempat para resi guru berada.
Selain sebagai tempat penempaan dan transformasi akar benih moral masyarakat, padepokan itu sekaligus menjadi tempat dididiknya bakal calon raja di sebuah kerajaan. Karena kerajaan dan karesian (pesantren) menjadi satuan integral dalam hal pendidikan moral, maka semua individu menjalankan ngilmu dan laku hidup prihatin, tujuannya supaya jernih dalam berpikir dan mudah menyerap realitas hidup. Sehingga, itu semua akan membentuk kematangan spiritual dan kecerdasan intelektual, untuk ia mampu mengendalikan tindakannya. Setelah proses itu terlalui, seseorang yang telah mencapai kematangan spiritual dan intelektual, bisa dijadikan sebagai pemimpin atau raja.
Kerajaan-kerajaan di Nusantara meski selintas bersifat monarki, namun tidak absolut sebagaimana yang berlaku di kerajaan-kerajaan Eropa. Raja-raja di Nusantara terpilih atas capaian kecakapan intelektual dan kematangan spiritual hasil nyantrik di padepokan (pesantren). Ia adalah wakil Tuhan yang berporos pada tradisi dan kebudayaan, hingga menciptakan peradaban.
