Saat duduk di bangku SMA kelas 3, ia berkesempatan mengenyam pendidikan ke Amerika Serikat, karena memperoleh beasiswa AFSIS (American Field Service International Scholarship). Dari kehidupannya di sana—yang pada saat itu bekerja di ladang peternakan — ia memiliki sebuah pemikiran untuk menghidupkan cita-cita kesusastraannya melalui sebuah profesi. Karena tak mungkin seorang penulis hanya mengandalkan karyanya semata. Akhirnya ketika ia kembali ke tanah air, dipaksa kedua orang tuanya untuk menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor.
Keberhasilannya sebagai sang maestro dalam dunia kesusastraan dan menjadi sastrawan Angkatan’66 tentu mengalami pasang surut. Diawali ketika ia mengembangkan bisnis peternakan, Taufiq belum kunjung berhasil yang akhirnya banyak meluangkan waktu untuk membaca dan menulis, sehingga ia berhasil menjadi sang maestro seperti sekarang ini.

Ia juga aktif dalam organisasi-organisasi sosial politik yang menuntunnya pada deretan sejarah sastra Indonesia. Ia merupakan salah stau pendiri Dewan Kesenian Jakarta dan Taman Ismail Marzuqi, serta Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang sekarang dikenal dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Taufiq Ismail juga memperkenalkan puisinya secara luas dengan membacakan karya-karya puisinya pada khalayak, dalam negeri maupun lintas benua. Dari track record beliau —yang di sini mungkin tak saya sebutkan semuanya — sehingga mengantarkannya untuk mendapatkan anugerah doktor pendidikan sastra.
Bagi Taufiq Ismail, puisi adalah nyanyian, cinta, bagian dari keimanan, media pengungkapan perasaan, cara mengecam kezaliman, pun sebagai cara berdoa pada Sang Pencipta. Dari pembukaan puisinya saja “Dengan Puisi, Aku” saya sudah dibuat terkagum dan jatuh cinta dengan diksi dan puisinya, mengantarkan saya pada hakikat seorang penyair menuliskan puisi untuk tujuan yang mulia. Tak hanya sebagai kepentingan personal individual, melainkan bersifat sosial sebagai media menyuarakan keadilan.
Saya baru menyadari bahwa tulisan puisi Taufiq Ismail tidak melulu berbicara tentang relgiusitas, melainkan suara pada kaum minoritas dan penyuaraan terhadap keadilan yang dikebiri. Sehingga membuat saya semain yakin dengan jalan kepenyairan yang saya pilih dan tempuh, sebagai pemegang estafet hirah beliau, meski masih berjalan perlahan dari start.
Puisi-puisi Taufiq Ismail seringkali merekam peristiwa-peristiwa sejarah, termasuk di dalamnya yang mengecam kekuasaan tiran, menyatakan keberpihakan pada kaum tertindas dan rakyat jelata, serta memberikan kritik pada sistem demokrasi. Hal ini sebagaimana antologi puisinya yang termaktub dalam Tirani dan Benteng maupun MAJOI (Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia). Adakalanya sebagian tema lainnya berisi panjatan doa, gerakan antinarkoba, serta satu hal yang membuat saya terangguk-angguk, bahwa ternyata beliau juga menulis puisi untuk anak-anak.
