Awalnya, puisi-puisi yang ditulis Taufiq Ismail hanya sebuah catatan yang hanya disimpan dan menjadi dokumen pribadi. Namun atas saran dan permintaan kawan-kawannya, maka puisi-puisinya diterbitkan dan dipublikasikan secara luas.
Puisi yang telah disodorkan kepada pembaca pada akhirnya menjadi netral, ia berhak ditafsirkan siapapun dengan cara bagaimanapun. Di sinilah kunci sebuah puisi yang baik, yang sanggup membangun komunikasi dengan pembacanya. Maka dari itu, seorang penyair yang menuliskan puisi tidak mungkin ditorehkan dalam keadaan yang kosong. Salah satunya, puisi Taufiq Ismail yang berjudul “ Bayi Bulan Mei 1998” puisi yang menggambarkan krisis moneter 1998, di mana persoalan utang Indonesia sangatlah berat, bahkan warga negaranya sejak dinipun telah menanggungnya. “Dengarkan itu ada bayi mengeja di rumah tetangga//Suaranya keras, menangis berhiba-hiba//Begitu lahir ditating tangan bidannya//Belum kering darah dan air ketubannya//Langsung dia memikul hutang di bahunya//…”

Ada juga satu puisi yang begitu menggelitik bagi saya, padat tapi sangat menohok. Sebuah puisi yang menggambarkan sebuah protes terhadap rezim Orde Baru. Berikut berjudul “Takut ’66 Takut ’98; Mahasiswa takut pada dosen//Dosen takut pada dekan//Dekan takut pada rektor//Rektor takut pada menteri//Menteri takut pada presiden//Presiden takut pada mahasiswa.
Banyak catatan-catatan penting yang saya dapatkan dalam proses membaca dan menyelami lautan makna buku ini. Saya belajar dari ungkapan Prof. Suminto bahwa puisi yang baik —sebagaimana dicontohkan Taufiq Ismail—adalah yang memiliki landasan imaji pada realitas empiris. Kenapa didasarkan pada realitas? Karena karya seorang penyair yang memiliki kedekatan dengan hakikat kehidupan akan menjadi lebih bermakna. Dengan demikian, puisi dapat pula dikatakan sebagai suara jiwa sebuah zaman.
Dan karya sastra yang baik haruslah memiliki akar dan sumber yang jelas, yaitu hidup dan kehidupan itu sendiri. Karena seorang pengarang bukan hanya sebagai seorang imitator melainkan melakukan reflekis dan interpretasi terhadap kehidupan di zamannya sehingga dituliskan dalam diksi terbaiknya. Pada akhirnya, pengarang seperti inilah yang akan menjadi pengarang yang besar.
Terakhir, saya ucapkan terimakasih kepada Panitia 90 Tahun Taufiq Ismail, yang sudah mengadakan buku jilid kelima ini dengan luar biasa, sehingga penyair pemula seperti saya bisa banyak mengambil pelajaran di dalamnya.
Satu hal yang tetap saya ingat sepanjang membaca beberapa ulasan beberapa sastrawan, termasuk kumpulan esai pada Haul Sastrawan maupun buku ini, ”Pada gilirannya karya sastra yang baik niscaya akan mempertinggi kesadaran religius pembacanya.”
