Ngatawi Al-Zastrouw juga berkisah tentang pengalaman santri saat memanjat pohon kelapa milik kiai dengan mengenakan sarung. Begitu dirinya sampai di atas pohon, tiba-tiba kiai melihatnya sembari berdehem. Ia pun kaget dan langsung turun dari pohon kelapa.
“Akhirnya, saya langsung melorot karena ketahuan Pak Kiai. Saya melorot, eh, sarung saya ketinggalan di atas,” imbuhnya. Disambut gelak tawa hadirin yang semakin pecah.

Begitu pula di kala Al-Zastrouw berbicara mengenai negeri. Negeri sebagai tanah tempat tinggal suatu bangsa, dan sarung sebagai lambang kesantrian, tidaklah bisa dipisahkan. Sebab, kemerdekaan negeri ini tidak lepas dari semangat juang kaum sarungan alias para santri. Oleh karena itu, semangat mencintai negeri ini tidak pernah luntur dari jiwa seorang santri.
Al-Zastrouw berkisah tentang Kiai Tuban di masa Gus Dur. Ketika Gus Dur datang ke Pesantren Tuban, kiai tersebut bercerita bahwa santrinya setiap hari Senin selalu menggelar upacara bendera sebagai wujud kecintaan para santri terhadap Tanah Air Indonesia.
“Kami selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya, Gus,” kata sang kiai kepada Gus Dur. “Besok upacara. Untuk sementara, kami nyanyi pakai kaset dulu.”
Keesokan harinya, tepat hari Senin, upacara bendera benar-benar digelar. Kaset dan tape dibawa ke arena upacara. Protokol membacakan susunan upacara, “Menyanyikan lagu Indonesia Raya.” Kiai langsung menekan tombol play pada tape tersebut. Namun, tidak disangka, lagu yang muncul dari tape itu berbunyi, “Boneka cantik, dari India.” Suasana jadi heboh. Kiai langsung mencari santri yang telah berani mengganti posisi kaset tape itu. Ruang gedung Makara Art Center kembali riuh dengan suara tawa hadirin.
Al-Zastrouw menambahkan kisah kecintaan santri kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang salah satunya bisa ditemukan dalam penyelenggaraan apel setia kepada NKRI.
“Kebetulan komandannya adalah santri senior. Sedangkan inspektur upacaranya, kiai sendiri. Ketika komandan melapor kepada inspektur dengan ucapan, ‘Lapor. Upacara siap dimulai. Laporan selesai.’
