Kiai yang menjadi inspektur upacara menimpali dengan menjawab, ‘Kerjakan!’ Lalu, si santri menanggapinya dengan jawaban, ‘Insya Allah, Gus!’ sambil mengangguk kepala,” begitu ia berkisah. Tawa hadirin kembali gempar.
Masih mengenai pelaksanaan upacara, pada kesempatan tersebut Ngatawi Al-Zastrouw juga berkisah kocak nan koplak di panggung monolognya. Ia bercerita terkait temannya yang ditunjuk untuk menjadi komandan upacara. Saking takzimnya kepada guru, meski tidak siap dan belum berpengalaman, si santri yang ditunjuk mendadak menjadi komandan itu, seketika belajar dan bertanya kepada teman sejawatnya yang lebih berpengalaman.

“Saat hormat kepada bendera, bagaimana bilangnya, ya?”
“Kepada Sang Saka Merah Putih, hormaaaaaat, grak!”
Sekonyong-konyong si santri itu menghafalkan kalimat tersebut ke mana pun ia pergi. “Kepada Sang Saka Merah Putih. Kepada Sang Saka Merah Putih. Kepada Sang Saka Merah Putih.” Terus begitu.
Namun, pada pelaksanaan upacara, ia tiba-tiba tidak ingat dan bingung. Protokol upacara pun mengomando, “Penghormatan kepada Sang Merah Putih.” Komandan upacara itu gelagapan, kemudian berucap, “Kepada Sang Merah disangka Putih, hormaaaat, grak!” Hahaha… Hehehe…
Begitulah santri. Biar pun bingung dan tidak siap, tetap dijalankan demi kecintaan kepada Tanah Air. Meski demikian, keinginan untuk terus belajar dan tampil maksimal senantiasa terpatri dalam sanubari. Maka, jangan remehkan kecintaan santri kepada negara Indonesia. Hidup santri! Merdeka!
