Prihatin akan kondisi masyarakat, Kiai Hasyim datang dengan membeli sebidang tanah di sana dari tangan seorang dalang terkenal. Itu terjadi pada 3 Agustus 1899, bertepatan dengan tanggal 26 Rabiul Awal 1317 H. Di atas sebidang tanah itu, Kiai Hasyim mendirikan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambuberukuran 6 X 8 meter. Bangunan sederhana itu disekat menjadi dua bagian. Bagian belakang dijadikan tempat tinggal Kiai Hasyim bersama istrinya, Nyai Khodijah. Sementara, bagian depan dijadikan tempat salat (mushalla). Saat itu ada 8 orang yang mengaji pada Kiai Hasjim –dalam tiga bulan kemudian jumlahnya meningkat menjadi 28 orang santri.
Masyarakat Tebuireng yang sudah merasa nyaman dengan gaya hidup hedonis itu ternyata merasa terusik dan terganggu dengan kehadiran Kiai Hasyim. Gelombang penolakan pun dating bertubi-tubi dalam beragam bentuk: fitnah, teror, ancaman keselamatan. Tak hanya terhadap diri Kiai Hasyim. Para santri yang belajar mengaji kepadanya pun tak luput dari serangan teror. Mereka dilempari batu atau kayu. Bahkan, bangunan yang didirikan oleh Kiai Hasyim itu dirusak dengan menggunakan senjata tajam. Para santri yang ketakutan harus tidur bergerombol di tengah ruangan agar tak terlukai senjata tajam. Kelompok-kelompok masyarakat itu mengancam dan meneror agar para santri berhenti mengaji.

Perlawanan Santri
Teror dan ancaman bertubi-tubi berlangsung hingga 2,5 tahun. Namun, ketika gangguan itu dirasakan semakin membahayakan keselamatan jiwa santri, Kiai Hasyim lalu mengutus seorang santri untuk pergi ke Cirebon, Jawa Barat, guna menamui Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Panguragan, Kiai samsuri Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet. Keempatnya merupakan sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih pencak silat dan kanuragan selama kurang lebih delapan bulan.
Dengan bekal kanuragan dan ilmu pencak silat ini, para santri tidak lagi khawatir terhadap gangguan dari luar. Bahkan, Kiai Hasyim sering mengadakan ronda malam seorang diri. Kawanan penjahat sering beradu fisik dengannya, namun dapat diatasi dengan mudah. Bahkan, banyak di antara mereka yang kemudian meminta diajari ilmu pencak silat dan bersedia menjadi pengikut Kiai Hasyim. Sejak saat itu, Kiai Hasyim mulai diakui sebagai bapak, guru, sekaligus pemimpin masyarakat.
Selain dikenal memiliki ilmu pencak silat, Kiai Hasyim juga dikenal ahli di bidang pertanian, pertanahan, dan produktif dalam menulis. Karena itu, Kiai Hasyim menjadi figur yang amat dibutuhkan masyarakat sekitar yang rata-rata berprofesi sebagai petani. Ketika seorang anak majikan Pabrik Gula Tjoekir berkebangsaan Belanda, sakit parah dan kritis, kemudian dimintakan air doa kepada Kiai Hasyim. Dan, anak tersebut pun sembuh.
Tebuireng Kini

Awal abad ke-20, pengaruh Kiai Hasyim dan pesantren terus meluas hingga ke berbagai daerah di Nusantara. Jika pada masa awal jumlah santrinya hanya 28 orang, pada 1910 sudah menjadi 200 orang. Dan, pada sepuluh tahun pertama, pesantren yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Tebuireng itu pada tahun 1910 jumlah santrinya melonjak menjadi 2000-an orang. Tak hanya datang dari daerah sekitar, banyak santri dari daerah-daerah lain, bahkan ada yang berasal dari Malaysia dan Singapura.
Kiai Hasyim dikenal sebagai guru yang sabar dan telaten. Kiai Hasyim memusatkan perhatiannya pada usaha mendidik santri sampai sempurna menyeleseaikan pelajarannya, untuk kemudian mendirikan pesantren di daerahnya masing-masing. Kemudian, juga ikut aktif membantu pendirian pesantren-pesantren yang didirikan oleh murid-muridnya, seperti Pesantren Lasem (Rembang, Jawa Tengah), Darul Ulum (Peterongan, Jombang), Mambaul Ma’arif (Denanyar, Jombang), Lirboyo (Kediri), Salafiyah-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Nurul Jadid (Paiton Probolinggo), dan lain sebagainya. Karena itu, ketika pada tahun 1942, Sambu Beppang (Gestapo Jepang) berhasil menyusun data jumlah kiai dan ulama di Pulau Jawa, terdata jumlahnya mencapai 25.000-an orang, dan mereka rata-rata pernah menjadi santri Kiai Hasyim di Tebuireng. Karena kemasyhurannya, para kiai di tanah Jawa mempersembahkan gelar ”Hadratusy Syeikh” yang artinya ”Tuan Guru Besar” kepada Kiai Hasyim. Saat itu, Pesantren Tebuireng dianggap sebagai pusatnya pesantren di tanah Jawa. Dan, Kiai Hasyim merupakan kiainya para kiai.
