Aku pernah mendengar salah seorang santri bertanya kepadanya, kenapa di usia senja begini, beliau masih semangat untuk mengaji. Atas pertanyaan itu, Mbah Kusairi memberi jawaban mengejutkan. Dulu ketika masih muda, ia sering bermalas-malasan dan kalah dengan hawa nafsunya.
Entah itu guyonan atau memang kenyataan. Yang pasti, beliau memberiku pemahaman bahwa mengaji itu tidak ada batasan umur. Beliau adalah seorang manusia yang menjalankan “thalabul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi” (menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat).

