Orang-orang di sini menjalani hidup secara wajar, sewajar-wajarnya. Sulit mencari ciri pembeda kiai dan masyarakat pada umumnya. Tak ada sorban, merk sarung, atau jenis minyak wangi tertentu sebagai penanda status sosial dalam pergaulan sehari-hari. Kiai tak identik dengan jenggot, jas, baju takwa, jubah, atau santri khadam. Sebutan Gus dan Ning pun tak populer. Seorang kiai bersepeda pancal (gowes/kayuh) untuk berbelanja ke pasar dan membawa sendiri barang belanjaannya, atau ke sawah sambil membawa cangkul dan mengenakan topi caping, adalah pemandangan yang lumrah. Sementara, di pesantren, mereka membaca kitab-kitab kuning -fikih, tafsir, hingga tasawuf.
Bila lebaran tiba, selepas sholat Id, orang-orang bertebaran. Mereka saling-silang berkeliling di sekitar dusun, berjalan dari satu rumah ke rumah lainnya, saling bersalaman: mengucap maaf, meminta restu, mendoakan. Rumah-rumah di sini tak berpagar, tak ada pembatas antarrumah kecuali pekarangan dan pepohonan. Burung-burung bersiul, mencuit-cuit, di sela-sela ranting pohon, seakan ikut bergembira. Mereka kadang hinggap di atas tanah, menemani para pejalan kaki.

Yang tertua di desa ini, kini, adalah seorang nenek tua yang usianya, konon, lebih seratus tahun. Dia tinggal sendiri di sebuah rumah yang sejuk dan asri, di tengah hutan kecil pohon jati. Rumahnya menjadi pusat orbitrasi orang-orang yang ber-sejarah. Dia sendiri tak ikut beredar, cukup di rumah, menunggu para tamu yang datang. Ingatannya luar biasa. Puluhan, bahkan ratusan, orang yang berkunjung kepadanya, sebagiannya dia kenali dengan baik. Bicaranya jelas dan lugas. Hampir dalam setiap ucapannya bertaburan doa-doa.
Mereka ber”sejarah”, menyambung tali silaturahim. Di timur pulau Jawa, orang bilang “nglencer”. Kata ini serapan dari kata Arab syajarah, berarti pohon, atau mempertalikan diri. Dengan “sejarah”, mereka mengikat atau menyambung kembali tali temali yang longgar atau terlepas. Laiknya sebuah pohon, begitulah kehidupan. Struktur pohon -akar, batang, dahan, ranting, dan daun- bagaikan silsilah keluarga. Ada darah yang sama yang mengalir, dari akar hingga daun.
Benteng Tradisi
Maka, ziarah dan “sejarah” adalah benteng tradisi. Dengannya otentisitas terjaga, kemurnian terawat. Seperti air yang menyirami pohon, ia menyuburkan dan merawat agar daun tak meranggas, rantingnya tak lepas, dahannya tak patah. Namun, keniscayaan itu ada: daun-daun yang berjatuhan, ranting-ranting lepas, dahan yang patah, pohon bertumbangan, bahkan akarnya tercerabut dari tanah. Virus, serangga, juga cuaca dan perubahan iklim, juga menggoyahkan struktur pohon. Akibatnya, ada satu-dua daun yang berwarna tak sama dengan lainnya. Ada yang menyimpang. Tak hanya perilaku dan gaya hidup, tapi juga ideologi, bahkan keimanan. Mereka, orang-orang desa itu, merangkulnya agar tetap dalam satu perahu -lewat ziarah dan sejarah.
“Anggen kulo sowan mriki, sepindah silaturrahim.
Kaping kalehipun ngaturaken salam saking poro ahli kagem keluarga mriki.
Ingkang kaping tigo, sugeng riyadin, ngaturaken sedoyo kelepatan.”
Begitulah kalimat pembuka dalam “sejarah” di kalangan orang-orang desa, terutama sekali di kalangan para santri tatkala sowan kepada para kiai dan guru-guru pesantren di desa itu. Kalimat-kalimat itu terstruktur dan terpola, juga seragam –hampir setiap yang bertamu mengucapkan hal yang sama. Sruktur kalimat itu seakan sudah menjadi protap dalam aktivitas “sejarah”.
Struktur kalimat pembuka dalam “sejarah” itu menjadi bagian dari tradisi lisan di kalangan mereka. Tak ada dokumentasi tertulis yang merekam kalimat-kalimat itu. Ia diwariskan secara lisan, turun-temurun, sambung-menyambung membentuk rangkaian sanad yang anonim. Dari segi redaksi, susunan kata tak selalu sama persis. Mirip dengan hadis, redaksi matan hadis juga bisa berbeda –beda untuk masalah yang sama. Ada dua hal: karena -dalam proses transmisi itu- ada yang lebih menekankan segi makna, atau upaya meringkas kalimat-kalimat yang panjang.
Sepintas, terkesan bertele-tele, atau bahkan basa-basi. Namun, ada etika luhur di sini. Ada tata krama yang terlestarikan. Sebagaimana dalam doa-doa, ada puji-pujian yang mendahului, ada salam pembuka, baru kemudian inti pengharapan. Pun, kehadiran seseorang dalam konteks “sejarah” tidak hanya mewakili diri pribadi, melainkan juga mewakili seluruh keluarga batih, atau keluarga besar yang secara fisik tak bisa hadir. Jalinan pun terbentuk, dalam sistem kekerabatan yang mengikat secara lahir maupun batin.
