Tempe Bacem Mbok Dar

Ketika Mbok Dar berjualan di pasar, Karjo yang menggantikan Mbok Dar menjaga cucunya. Pun bila Karjo menggarap sawah tetangga, Mbok Dar yang menjaga Ning Sari.

“Gimana, Mbok, jualan hari ini?” tanya Karjo sesaat setelah Ning Sari berhenti menangis di pangkuan Mbok Dar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Alhamdulillah, sedikit banyak ya disyukuri, Kung,” jawab Mbok Dar.

Mbok Dar tidak berniat menceritakan pada suaminya perihal apa yang ia alami di pasar tadi. Biar pun seandainya dirinya yang benar, Mbok Dar sudah mengikhlaskan dan memaafkan.

Mbok Dar mengusap pelan dahi cucunya. Ia tak tega dengan Ning Sari yang terus merengek ketika diberi air gula. Begitulah, Ning Sari yang seharusnya masih diberikan asi atau susu formula, tapi ia hanya diberi minum air gula. Mbok Dar hanya akan membelikan Ning Sari susu saat mendapat keuntungan lebih dari penjualan tempenya. Sebab, keuangan yang pas-pasan memaksa Mbok Dar memangkas uang untuk beli susu.

“Kalau ada uang lebih mending dibelikan susu aja, Mbok. Kasihan itu,” ujar Karjo beberapa saat kemudian.

“Utangku ke warung Yu Mar belum juga dibayar. Simbok sudah janji bayar hari ini,” balas Mbok Dar lirih. Lagi-lagi ia belum mampu membelikan susu untuk Ning Sari.

“Insyaallah, Pon depan simbok akan belikan susu,” tukas Mbok Dar.

***

Pagi-pagi sekali Mbok Dar sudah menggendong senik berisi dua baskom tempe bacem. Langkahnya pasti, untuk menjemput rezeki. Namun, selama perjalanan, Mbok Dar hanya menemui jalanan lengang. Hampir tidak ada aktivitas warga di luar rumah.

Mbok Dar tidak patah semangat. Barang kali rezekinya ada di pasar. Sesampainya di pasar, tak ada kegiatan jual beli satu pun. Pasar melompong. Hanya ada lapak kosong yang ditinggal penjualnya.

Bibir Mbok Dar berkomat-kamit. Jarinya seperti digunakan berhitung. Ia mencoba mengingat-ingat pasaran hari ini. Barang kali dirinya lupa kalau hari ini bukan pasaran Pon. Namun, sudah dihitung berkali-kali, hasilnya masih sama: hari ini pasarannya Pon.

Hari semakin siang. Pasar masih sepi. Dua baskom tempe bacem Mbok Dar belum berkurang satu pun. Tetapi Mbok Dar belum juga beranjak. Ia masih yakin, Allah akan mendatangkan pembeli untuknya.

Tinggalkan Balasan