Cover Buku Kitab Suci Para Anjing

Tentang Kumpulan Cerpen Kitab Suci Para Anjing

Maka, dengan hadirnya buku kumpulan cerpen Kitab Suci Para Anjing ini, yang berisi 16 cerpen, pembaca akan menyelami dimensi-dimensi kehidupan dari berbagai sudut pandang: dari seorang pemuda (Wasiat Ibu), seorang anak kecil (Mendung Hitam Itu Seperti Bayangan Bapak), seorang santri (Bau Amis Laut), hingga dari sudut pandang anjing (Kitab Suci Para Anjing), dan lainnya. Di mana kesemua cerpen tersebut sarat makna, petualangan, perenungan, dan tentu lonjakan-lonjakan kisah yang tak terduga. Mengutip Kang Anas, “Bagi para pembaca kumpulan cerpen ini, jangan kaget sebab terdapat ledakan atau kejutan di setiap bagian ceritanya.”

Keunggulan Buku

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Usai membaca lengkap keseluruhan isi buku, peresensi menemukan ceruk-ceruk poin yang menarik dari kumpulan cerpen yang ditulis oleh Kang Anas ini. Barangkali inilah cara kerja sastra, sebagaimana yang disebut oleh Sigmund Freud (1856—1939), sebagai fenomena psikoanalisis. Di mana pembaca sastra akan mengalami respons imajinatif dalam jiwanya sehingga mampu menggambarkan rangkaian tulisan ke dalam visualisasi-visualisasi ke dalam nalar pikirnya.

Peresensi, sekurang-kurangnya menemukan tiga keunggulan dari buku kumpulan cerpen Kitab Suci Para Anjing. Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini bisa dikategorikan cukup baik, tentunya dengan beberapa alasan.

Pertama, semua cerpen sudah pernah dimuat oleh media. Bagi seorang penulis, gerbang utama agar namanya bisa melambung adalah memiliki jejak digital, di mana jejak digital tersebut bisa ditapaki dengan mengirim karya ke media online maupun cetak. Sebab, di sanalah mental penulis akan diuji. Proses penerimaan naskah di media terbilang cukup rumit. Pasalnya, naskah-naskah penulis akan melewati tembok tebal, yakni tim redaktur. Redaktur akan melakukan kurasi secara objektif, apakah naskah yang dikirim penulis layak atau tidak dimuat oleh media terkait. Dalam hal ini, Kang Anas telah puluhan kali menerobos media terpercaya sehingga naskah-naskah cerpennya bisa dimuat oleh media.

Kedua, cerpen disajikan secara empiris; tell story experience –meminjam istilahnya Kang Anas. Artinya, kumpulan cerpen Kang Anas didominasi oleh “real experience” yang berlaku dalam kehidupan seseorang; baik itu dari pengalaman penulisnya sendiri maupun dari kaca mata orang lain.

Yang pasti, kumpulan cerpen Kang Anas amat mengena jika dibaca. Sebab, alur cerita dibuat semurni mungkin dengan keadaan yang ada. Misalnya, ketika Kang Anas menggambarkan daerah Wonosobo (Tuhan dan Air Mata Patah Hati), menggambarkan siur-siur Pantura (Bau Amis Laut), menggambarkan kehidupan narapidana (Koruptor yang Budiman), dan banyak lagi. Pendek kata, pendekatan yang digunakan oleh Kang Anas tak jauh-jauh dari pengalaman banyak orang. Sehingga pembaca tak akan dibuat terlalu mengkhayal tersebab narasi yang terlampau tinggi. Sebaliknya, pembaca akan dibuat nggumun (baca: terkagum-kagum) dengan diksi dalam isi tiap cerpen karena mudah dicerna.

Ketiga, alur gelap nan dramatis yang diusung. Jujur, bagi peresensi sendiri, cerpen semacam ini patut mendapatkan apresiasi terbaik. Tersebab membuat ruh tulisan untuk memunculkan gejolak dalam hati pembaca amatlah tak mudah. Namun, Kang Anas mampu membawa aura gelap dalam setiap cerpennya.

Tinggalkan Balasan