Dari saking tidak terbatasnya Tuhan, Dia mampu mengendalikan alam yang Maha-indah dengan kekuatan-Nya. Tuhan bisa tahu kapan makhluk-Nya mati. Jika konteksnya manusia, Dia juga tahu kapan kita mendapat rezeki, kebahagiaan, dan kemalangan sekalipun. Inilah yang tidak bisa dicapai oleh makhluk, kemungkinan bisa dicapai asal, sekali lagi, sebagai penegasan, Dia berkehendak kun fayakun.
Manusia adalah makhluk yang bebas. Tuhan memberikan kebebasan penuh kepadanya untuk memilih jalan yang ia kehendaki (hal.121), sehingga bila manusia keliru dalam memmilih jalan, di sana tidak ada dorongan Tuhan, hanya ada dorongan nafsu.

Ulil Abshar Abdalla mengupasnya dengan bahasa yang santai dan ringan. Sehingga kejenuhan atau kebosanan enggan untuk mampir saat membaca buku ini, terlebih ketika dibaca di tempat yang tenang, akan semakin memadu dan menyatu dengan maksud dalam setiap kalimatnya.
Bisa jadi apa yang hendak disampaikan oleh Ulil langsung meresap dalam diri kita. Dengan bahasa renyahnya, dia juga memberikan pemahan akan batas-batas yang tidak boleh manusia lewati dalam membicarakan Tuhan. Sebab, Tuhan tidak bisa diintervensi oleh pikiran atau pemikiran mana pun.
