Dari sini, ‘ketidakbiasaan’ itu perlahan tampak ke permukaan. Mulai dari beberapa huruf abjad yang kemarin dia sangat hafal tiba-tiba lupa, hingga, beberapa kali dia menunjuk huruf, tapi tidak tahu menyebut huruf yang ditunjuk. Semacam ada kerja otak yang melemah atau lambat dalam memroses ingatan.
Jangankan membaca, huruf abjad saja masih sukar dia hafal. Apalagi, dia juga kesulitan dalam urusan membedakan huruf yang memliki bentuk yang hampir serupa, begitu menurut pengakuannya. Seperti huruf M dan W, huruf N dan Z, atau bahkan huruf V dan Y. Huruf-huruf ini, seringkali kurang benar pengucapannya, atau lebih tepat tertukar penyebutannya. Saya sendiri baru menyadari setelah beberapa hari Ina belajar kepada kami.

Setelah mencoba mencari informasi di Google, akhirnya ketemu masalahnya. Ya, disleksia (dibaca disleksi). Sebuah gangguan yang mengakibatkan kerja otak lebih lambat dari kerja otak normal saat menangkap informasi. Ina, dalam pembacaan singkat saya, kemungkinan memang mengalami gangguan ini. Salah satunya seperti tertukarnya huruf tadi. Bahkan, hal ini juga berimbas kepada tingkah lakunya, seperti…… maaf, saya belum bisa menyebutkannya di sini.
Intinya, disleksia, sekali lagi, adalah sejenis masalah gangguan pada syaraf otak, yang biasanya dikarenakan faktor gen dari orang tua sebagai penyebab terkuat seseorang mengalaminya. Tapi, ini bukan penyakit, sehingga metode penanganannya juga tidak dengan cara pengobatan, melainkan dengan pembiasaan.
Upaya efektif yang bisa dilakukan adalah dengan terus-menerus atau istiqomah belajar, sambil lalu konsultasi kepada psikolog. Dengan cara itu, kemungkinan besar daya ingat seseorang yang mengalami gangguan perlahan akan menguat dalam menangkap dan menyimpan informasi dan kembali normal. Tapi itu tidak mudah dan butuh waktu yang agak panjang.
Namun, terlepas dari segala keterbatasannya itu, saya kagum: selain, menurut teman-temannya, bertanggung jawab, semangat yang dia tunjukkan, terutama kepada saya, seolah tak pernah padam. Seorang anak kecil yang mungkin dianggap (maaf) kurang normal oleh lingkungan sekitarnya karena ketidaksamaan laku hidup keseharian. Tetapi, lagi-lagi bagi saya, dia sangat normal karena kesadaran dan atensi (perhatian) terhadap ketidaktahuan yang sedang menimpanya. Dia, disadari atau tidak, sedang mengupayakan diri agar terbebas dari segala belenggu ketidaktahuan itu.
Saya sendiri merasa dicambuk menggunakan rotan paling tebal oleh Ina. Dengan kepolosan dan kekurangan yang dimiliki itu, dia tetap tegar belajar membaca. Berusaha sekeras mungkin agar kebebalan dalam dirinya lekas sirna. Sekaligus, menjadi manusia yang tidak lagi disebut “tidak normal” dari kebanyakan teman bermainnya. Karena, membaca, sejauh ini menjadi salah satu usaha dalam menangkap pengetahuan.
Hingga KKN kami berakhir, Ina masih belajar membaca. Lumayan, daya ingatnya kepada huruf abjad kira-kira sudah 80%. Minimal, dia sudah mengenal bentuk dan penyebutan dari masing-masing huruf selama kami di sana, meski belum bisa mengeja.
Sejak saat itu, dia rutin belajar kepada mahasiswa dari kampus lain yang juga kebetulan sedang KKN di desanya. Tepat lima hari sebelum kami pamit, peserta KKN dari salah satu kampus di Sumenep datang dan mengambil alih ‘sebagian daerah kekuasaan kami’. Tidak masalah. Terpenting, mereka bisa menemani dan mau membantu Ina belajar membaca.
Inilah kekaguman kami kepada anak perempuan yang satu ini. Meski berkali-kali lupa, dia tetap mencoba menghafal semampunya. Walau dia tahu, beberapa detik berselang setelah belajar, pengetahuan itu mungkin akan sejenak hilang. Tapi itu tidak membuat dia patah semangat untuk tahu. Sebab, barangkali dia yakin, jika dengan cara belajar secara rutin saja masih belum bisa, apalagi jika jarang atau bahkan tidak sama sekali.
