* * *
Pada mulanya, membaca mungkin kita pahami sebagai hobi. Kita melakukannya untuk mengisi waktu luang setiap hari. Ya, itu boleh-boleh saja, bahkan sangat perlu membiasakan diri dengan membaca. Sampai pada tahap berikutnya, bersamaan dengan perkembangan daya pikir kita, membaca, berubah menjadi sebuah kebutuhan.

Selain perintah agama, tuntutan lainnya datang dari perkembangan zaman yang juga menawarkan banyak informasi kepada kita, baik maupun buruk. Sehingga kita dituntut agar mampu memiliki sikap bijak ketika berhadapan dengan hal demikian yang tentu saja melalui pengetahuan.
Tapi, hal apa yang patut kita pikirkan selain membiasakan membaca? Itulah yang disebut dengan ‘kemampuan menangkap informasi secara tepat dari apa yang kita baca’. Sehingga, kita tidak sekadar membuka lembar demi lembar halaman buku, berpindah tempat duduk dari satu tempat ke tempat lain, dan seterusnya. Sebab, membaca mengandaikan adanya pemahaman secara utuh yang harus didapatkan demi menghindari sesat pikir dan lain-lain. Ini belum termasuk jenis buku yang cocok dibaca.
Kemampuan dalam menangkap pengetahuan semacam ini tidaklah gampang. Terkadang, seseorang perlu membaca ulang demi mendapat informasi yang akurat. Bukan sekadar membaca dari awal hingga akhir halaman, tetapi tidak paham terhadap apa yang si penulis sampaikan. Buku yang kita selesaikan mungkin sudah banyak, tapi itu belum menjamin terhadap kelimpahan pengetahuan yang kita serap.
Seorang pemain sepak bola, misalnya, tidak akan mampu melakukan umpan atau shoot saat mengeksekusi bola mati secara akurat jika hanya belajar menendang sembarang. Dia tentu sudah melakukan latihan mulai dari hal yang paling dasar seperti kaki bagian mana yang digunakan untuk menendang si kulit bundar, hingga bagaimana ia mengukur antara kekuatan sepakan dengan jarak yang hendak dijangkau. Bahkan, ketika dia sudah berhasil melakukannya, dia terus mempelajari tahapan berikutnya, yaitu ball feeling. Ini mungkin lebih rumit daripada sekadar menendang. Karena, ketepatan dan keakuratan harus sudah dibangun dan selesai sejak dari dalam hati dan pikirannya.
Begitu pula dengan aktivitas membaca. Seseorang perlu melakukan upaya lain selain hanya ‘membaca’ tadi. Yaitu, usaha memahami apa yang dibaca. Upaya memahami bacaan tidak harus selalu dengan mengulang-ulang melainkan dengan kehati-hatian —karena membaca tidak selalu untuk menghafal. Jangan terburu-buru hanya demi mengkhatamkan banyak buku.
Pengulangan bacaan perlu dan berfungsi, utamanya, pada buku-buku berseri pemikiran, seperti filsafat, ideologi, teologi, dan sejarah. Saat berhadapan dengan buku macam ini, kita dianjurkan agar membacanya lebih pelan dan lebih teliti agar konstruksi pengetahuan dalam otak kita tidak ngawur. Satu lagi: kekuatan mengingat kita diuji ketika melahap lembaran buku jenis ini.
Selain itu, informasi yang kita peroleh dari sebuah tulisan kadang masih dihadang pagar lain: ambiguitas tulisan. Tidak sedikit penulisan sebuah kalimat menyampaikan dua macam pemahaman atau lebih kepada pembaca. Antara pemahaman satu dengan yang lainnya akan berimbas kepada paragraf lain. Dalam kalimat “Bapak membaca buku sejarah sastra yang baru”, misalnya.
Membaca, sekali lagi menjadi salah satu jalan mendapat pengetahuan. Pengetahuan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia sepanjang hidupnya. Maka, jadilah pembaca yang tak sekadar membaca.
Terakhir, ada pesan sekaligus pertanyaan tersirat dari kisah anak perempuan bernama Ina tadi kepada saya dan mungkin bagi kita semua: “Bentuk syukur macam apa yang telah kita berikan kepada Tuhan atas anugerah kemampuan membaca yang kita punya, yang tentu saja sangat istimewa?”
