Tiga filsafat yang dimaksud adalah, pertama, Filsafat Idealisme (philosophy of Idealism). Filsafat ini mengedepankan paham rasionalitas dan individualitas, dan ketika dijadikan dasar berpolitik melahirkan ideologi Liberalisme dan Kapitalisme. Ideologi ini beranggapan bahwa manusia adalah pusat dari segalanya. Dalam praktik, ideologi ini memisahkan pengaturan relasi agama dan negara.
Jika berkaca dari ideologi tersebut, apakah Pancasila salah satunya? Tentu tidak. Pancasila bahkan mengakomodasi nilai keagamaan dalam bernegara.

Kedua, Filsafat Materialisme (philosophy of materialism). Filsafat ini mengedepankan paham emosionalitas berupa perjuangan kelas dengan kekerasan dan kolektivitas. Dalam kehidupan berpolitik, filsafat ini melahirkan ideologi Sosialisme dan Komunisme. Dalam kehidupan beragama, filsafat ini bahkan lebih ekstrem dari yang pertama. Dalam praktik, agama bahkan dianggap menjadi candu yang bisa menghambat laju negara.
Jika berkaca dari sini, sangat tidak cocok dengan Pancasila. Pancasila justru menjadi sebuah jawaban atas kehidupan berbangsa dan beragama dengan sangat harmonis dan dialektis.
Ketiga, filsafat Teologisme (philosophy of teologism). Filsafat ini meyakini bahwa ajaran Tuhan menjadi sentral dari kehidupan bernegara. Sehingga, paham ini sangat membuka peluang sebagai sarana pengkultusan seseorang untuk mengambil peranan dalam beragama.
Jika berkaca dari filsafat itu, Pancasila sangat tidak seperti itu. Pancasila bahkan mampu menjembatani iman dan akal untuk berjalan seimbang. Sehingga, tentu saja dalam praktik kehidupan di Indonesia, jika ada seseorang yang mengaku menjadi nabi atau malaikat pasti akan segera diamankan oleh petugas karena Pancasila juga mengatur dalam keseharian kita untuk menjauhi kemusyrikan dan tidak ada pengkultusan individu.
